Literasi Digital, Merdeka dalam Bermedia Sosial

Daftar isi [Tampil]
Literasi Digital


Kemerdekaan tidak hanya soal negara kita yang bebas dari penjajah asing, tapi lebih dari itu. Salah satunya adalah merdeka dalam mengakses dan menyampaikan konten di ruang maya.

Secara sederhana, merdeka itu artinya bebas. Bebas makan dan minum, bebas berselancar di dunia maya, bebas mengutarakan pendapatnya di ruang publik dan bebas yang lainnya. Tentu sobat perlu ingat, bahwa bebas disini punya batasannya.

Dewasa ini, kita bebas mengakses dan menyampaikan konten di media sosial dan internet.

Menurut KBBI, media sosial diartikan sebagai sebuah laman atau aplikasi yang memungkinkan penggunanya untuk membuat dan berbagi isi serta terlibat dalam jaringan sosial. Sedangkan, internet sendiri merupakan jaringan komunikasi elektronik yang menghubungkan antar jaringan komputer di seluruh dunia secara terorganisasi.

Media sosial bisa dikatakan sebagai produk dari adanya internet, sehingga memungkinkan kita untuk berbincang-bincang dengan orang lain tanpa mengenal tempat dan waktu.

Penting sekali saring sebelum sharing

Ketika perkembangan dunia sudah bergerak secara signifikan, namun yang menjadi pertanyaannya adalah “Apakah konten yang kita bagikan sudah positif? Jangan-jangan konten yang kita bagikan masih menyinggung SARA, mengandung ujaran kebencian, parahnya lagi mengumbar konten dengan unsur pornografi.”

Menurut Indra Gunawan, selaku Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat KEMENPPPA (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) mengatakan bahwa ketakutan di era literasi digital saat ini adalah merebaknya konten-konten negatif seperti pornografi.

Saat ini  jumlah  generasi  muda  yang  mengakses  internet  sangat  besar  yaitu  kurang  lebih  70  juta  orang.  Mereka berselancar di dunia maya dilakukan melalui berbagai cara, seperti telepon genggam, komputer personal atau laptop yang durasinya mendekati 5 jam per hari. Tingginya penetrasi  internet  bagi  generasi  muda, hal ini  tentu  meresahkan  banyak  pihak. Berdasarkan data dari Gerakan Literasi Nasional Kemendikbud 2017, akses generasi muda Indonesia  terhadap  konten berbau pornografi perhari rata-rata mencapai 25 ribu orang.

Ketika kita sadar bahwa Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan penetrasi internet tertinggi di dunia, tentu perlu adanya filterisasi. Filterisasi yang dimaksud adalah menyaring informasi sebelum membuat dan membagikan konten di internet.

Sayangnya, hal ini belum diimbangi dengan tingkat literasi di Indonesia.

Menurut UNESCO, minat baca orang Indonesia masih sangat rendah. Dengan dibuktikan hasil survei bahwa Indonesia menempati urutan kedua dari bawah soal literasi.

Bagaimana tidak prihatin, ketika minat baca orang Indonesia hanya 0,001% yang artinya hanya ada 1 orang dari 1000 yang rajin membaca.

Tapi kan, literasi nggak melulu tentang baca buku?

Betul. Banyak faktor yang mempengaruhi hasil survei tersebut, salah satunya akses buku.

Namun, perlu diingat bahwa Indonesia menempati posisi kelima terbanyak dalam kepemilikan gadget. Fakta tersebut mengungkapkan bahwa 60 juta penduduk Indonesia sudah mempunyai gadget.

Kemudian, Indonesia juga juara dalam hal kecerewatan di media sosial. Wearesocial mencatat Indonesia sebagai penyabet posisi kelima dunia sebagai negara tercerewet di media sosial.

Bagaimana? Sudah geleng-geleng kepala belom? Baca buku malas, ngetweet, ngetiktok, ngestory WA IG lancarrr poll.

Mengenal Literasi Digital


Di tengah kemerdekaan ada baiknya kita mengisi dengan konten-konten yang positif. Teman-teman bisa juga membuat postingan tentang harapan positif seperti merdeka dari covid-19.

Saya rindu bepergian bebas tanpa takut covid-19. Paling tidak, di tengah pandemi ini mari mulai membuat konten yang positif.



Webinar Literasi Digital

Teman-teman juga bisa mengisi kegiatan di pandemi dengan mengikuti seminar-seminar online.

Pada Jumat, 14 Agustus 2020 kemarin, saya mengikuti Webinar dengan tema “Mengisi Kemerdekaan dengan Postingan Positif,” bersama KEMENPPPA, saya banyak memperoleh pencerahan seputar dunia literasi digital.

Tak tanggung-tanggung, ketiga pemateri mengupas tuntas perihal literasi digital

Menurut Paul Gilster dalam bukunya yang berjudul Digital Literacy (1997), literasi digital adalah kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui piranti komputer.

Douglas  A.J.  Belshaw  dalam  tesisnya  What  is  ‘Digital   Literacy‘?   (2011)  menyebutkan bahwa   ada   delapan   elemen penting untuk mengembangkan literasi digital, yaitu:
1. Kultural, yaitu pemahaman ragam konteks pengguna dunia digital
2. Kognitif, yaitu daya pikir dalam menilai konten
3. Konstruktif, yaitu reka cipta sesuatu yang ahli dan aktual
4. Komunikatif, yaitu memahami kinerja jejaring dan komunikasi di dunia digital
5. Kepercayaan diri yang bertanggung jawab
6. Kreatif, melakukan hal baru dengan cara baru
7. Kritis dalam menyikapi konten
8. Bertanggung jawab secara sosial.
UNESCO pada tahun 2011 menjelaskan konsep literasi digital secara terminologi yaitu merujuk kepada kegiatan literasi, seperti membaca dan menulis serta berkaitan dengan pendidikan. 

Menarik sebuah kesimpulan, literasi digital  merupakan  kecakapan  (life  skills) yang tidak hanya melibatkan kemampuan menggunakan perangkat teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK),  tetapi  juga  kemampuan  bersosialisasi,  kemampuan  dalam  pembelajaran, dan memiliki sikap, berpikir kritis, kreatif, serta inspiratif sebagai kompetensi digital (GLN Kemendikbud, 2017).

Maman Suherman, Jurnalis Senior sekaligus Penulis berbagai buku, menjelaskan pentingnya untuk menerapkan konsep 5R dan 4K di dunia literasi digital saat ini.

Apa itu 5R dan 4K ?

  1. Read (membaca). Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Bagaimana mungkin kita ingin menulis, tanpa adanya budaya membaca? Penting sekali seorang penulis membaca berulang-ulang terhadap informasi yang baru ia ketahui.
  2. Research (riset). Layaknya seorang detektif maka di era literasi digital saat ini, perlu adanya kroscek secara mendalam. Tentu tulisan yang berbobot adalah tulisan yang ditulis berdasarkan data dan fakta.
  3. Reliable (tingkah kesalahan harus mendekati atau sama dengan nol). Sangat fatal akibatnya ketika apa yang kita tulis adalah informasi yang salah atau salah dalam menyampaikannya. Penulis harus benar-benar yakin bahwa tulisannya sudah bersih dari kesalahan, tidak harus nol paling tidak berusaha mendekati nol.
  4. Reflecting (refleksi). Setiap orang punya sudut pandangnya masing-masing, tulisan kamu adalah refleksi dari kacamata yang kamu punya. Berbeda-beda tidak menjadi masalah.
  5. W(r)ite (tulis). Menulislah agar pikiran menjadi rapi. Indonesia membutuhkan penduduk yang mempunya pikiran-pikiran yang rapi. Jangan hanya bertumpuk di kepala, tapi tulislah dan bagikanlah.


Ada 6 kunci literasi di era digital saat ini, terdiri dari literasi baca tulis, numerik, digital, finansial, sains, dan kebudayaan.

Agar 6 kunci tersebut berjalan dengan baik di dunia literasi digital, maka perlu menerapkan konsep 4K yaitu; Komunikasi, Kolaborasi, Kreatifitas, dan Kritis dalam berpikir (critical thinking).

Menjadi content creator yang baik

Setelah memahami kunci sukses menyelami dunia literasi digital, maka yang menjadi pertanyaan adalah:

“Bagaimana cara menjadi content creator yang baik?”

Ketika dulu kita sangat familiar dengan pepatah “Mulutmu Harimaumu” makan di era digital saat ini tidaknya hanya mulut yang beradu kata, tetapi jari yang kini mengambil alih.

“Jempolmu, Harimaumu!”

Ketika kita terjun ke era literasi digital, mau tidak mau, kita harus siap dengan segala wujud konten yang ada.

Mulai dari konten yang receh menghibur diri, konten serius yang membuat nalar berpikir dua kali, konten yang bikin gigit jari, konten yang mengandung bawang, hingga konten yang bikin naik pitam.

Simpelnya, menurut saya konten itu terbagi menjadi dua kategori yakni POSITIF dan NEGATIF.

Menjadi content creator yang baik, tentu kita harus menyajikan konten-konten yang positif.

Lalu, bagaimana caranya?

Menurut Amy Kamila, seorang content creator dan psikolog klinis, menyebutkan bahwa konten mencerminkan kreatornya.

Ketika kreator, cara berpikir serta konten yang dihasilkannya maka hal itu sama dengan identitas karya anak bangsa. Karya anak bangsa mau dikenal seperti apa? 
Tukang copy paste?
Tukang nyinyir di sosmed?
Atau dikenal sebagai anak bangsa yang memiliki kepribadian yang luhur dengan konten-konten yang positif? Tentu menjunjung tinggi aturan atau norma yang ada.
Jadi, content creator itu bukan lagi menunjukkan sisinya secara personal tapi sudah mewakili Indonesia secara makro di mata dunia.

Content Creator yang baik tentu seorang kreator yang menjaga nama baik Indonesia.

Tahapan-tahapan penciptaan sebuah karya

Tahapan-tahapan penciptaan sebuah karya ini saya rangkum dari materi Mbak Amy. Mari disimak ya. Adapun tahapan-tahapannya terdiri dari:

Tahapan pembuatan konten media sosial


1.    ALASAN

Sebelum memulai untuk menjadi seorang content creator, tanamkan ke diri kita sendiri bahwa bukan kepopuleran yang dicari tapi kebermaknaan.
“1 orang yang terinspirasi dari konten kita dapat menularkan keratusan bahkan jutaan orang lainnya.”  Yossi Project Pop
Ya, alasan merupakan tahapan pertama dari seorang kreator. Kenapa kamu mau menjadi content creator? Kenapa kamu membuat konten itu?
Mulailah dari alasan. Alasan juga sinonim dari niat. Apa niatmu? Yuk perbaiki kembali niat-niat yang mungkin mulai menyimpang.

2.    IDE

Tahapan kedua adalah ide. Terkadang kita (kayaknya gue doang sih) sering merasa enggak punya ide untuk menulis. Padahal, ketika kita telaah lebih lanjut, ada banyak inspirasi ide yang bisa menjadi bahan tulisan.
Jangan takut kalau ide kita jelek, enggak ada yang baca. Tarik napas dulu kemudian tenangkan diri.
“Selalu ada revisi dalam hidup kita.”
Nah, ketika kita merasa ide yang tertulis banyak salahnya, tenang masih bisa direvisi kok. Sejatinya manusia itu tidak ada yang sempurna, kita hanya berusaha untuk menjadi lebih baik termasuk tulisan yang kita tuliskan. Salah, revisi lagi. Masih ada salah, revisi lagi. Begitu seterusnya. 
Bingung memulai idenya?
Mulailah dari hal yang sederhana, dari dekat dengan kita, serta mulailah dari sekarang. Jangan sampai ide tersebut hilang ditelan banyaknya pemikiran.
 

3.    ALUR

Saya sering bingung, apakah alur tulisan saya sudah mengalir hingga enak untuk dibaca?
Atau malah tulisan saya memiliki alur yang berputar-putar?

Ternyata, ketika kita sedang berusaha untuk menulis, ya tuliskan saja dulu semuanya. Whatever sama KBBI, terserah sama PUEBI, silakan tulis aja dulu ide yang nyangkut di kepala.

Jangan lupa saat menulis, letakkan rasa di dalam karya sehingga menulis bukan sekadar menulis tetapi menulislah menggunakan hati.

“Tulisan jelek, tapi selesai. Lebih baik daripada tulisan bagus yang gak selesai.” –Amy Kamila. 

Setelah ide ditulis, baca lagi tulisannya dari awal. Jika ada typo maka revisilah terlebih dahulu. Pastikan karya kita siap untuk dibaca. Dan yakini bahwa karya adalah tanggung jawab dari sang kreator.
 

4.    MEDIA

Di era digital saat ini, sudah banyak media-media yang bisa kita gunakan untuk menampung karya kita.

Ketika outputnya berupa tulisan, kita bisa membagikannya melalui platform blog dan media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Twitter.

Ketika outputnya berupa video atau karya visual lainnya, kita bisa menggunakan platform yang berkesesuaian juga. Video bisa kita tampilkan di Youtube, Instagram, dan lain-lain. Jika gambar, juga bisa kita publish di berbagai platform yang ada.

Bidiklah dari sekarang, media mana yang menjadi tempat karyamu berada.

Cara bertahan di media sosial dan internet

Pada paragraf di atas, saya sudah menyentil soal rendahnya tingkat literasi Indonesia. Sedangkan, penggunaan media sosial Indonesia masuk sebagai negara tercerewet kelima dunia. Sehingga, ketimpangan ini membuat arus informasi bergerak begitu deras. Salah sedikit, bisa bisa kita mengonsumsi informasi Hoax.

Jangankan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya, konten-konten vulgar nan menyiksa iman begitu mudahnya berseliweran di dunia internet yang notabenenya sudah ada pengawas (KOMINFO). 

Lantas, bagaimanakah caranya agar kita melawan arus konten negatif? Serta, bagaimana caranya kita bertahan di media sosial dan internet ini?
 

Hayoo, bagaimanakah caranya....eh jadi nyanyi.


Ani Berta, seorang blogger sekaligus penggiat literasi memaparkan materi perihal cara berjuang di era sosial media.


Kutipan Motivasi

Memang, konten-konten negatif hadir begitu mudah, tetapi jangan sampai kita kalah sebelum perang melawannya.

Kalah dalam artian tidak mau memulai untuk membuat konten positif sebagai penangkalnya.
Ayo, sayangi orang-orang terdekat kita dengan memulai untuk membuat konten yang positif.

Lho, kenapa orang-orang terdekat kita?

Bayangkan ketika setiap orang punya mindset demikian, maka ketika timbul niat untuk membuat konten yang negatif luntur begitu saja. Jangan-jangan ntar adekku baca yang beginian juga, jangan-jangan….

Kita lawan konten negatif, mulai dari diri kita sendiri.
Sebagai seorang content creator, maka kita dituntut untuk menguatkan konten personal yang mencirikan identitas anak bangsa.

Kita bisa membuat konten dengan tone positif seperti tulisan yang menyemangati, memotivasi, dan menghindari tulisan yang berbau adu jempol (perdebatan).

Kita bisa pula membuat konten yang mengedukasi seperti tulisan yang berisi wawasan, tutorial, ataupun refleksi ilmu dari tokoh yang kita ikuti di seminar-seminar online. Contohnya, ya seperti tulisan saya ini hehe.

Posisikan diri kita sebagai corong informasi bagi pemerintah, warga, dan diri sendiri. Mbak Ani menegaskan, “Jadilah garda terdepan!”

Kita adalah corong informasi bagi pemerintah
Kita bisa berbagi informasi terkait regulasi, program dan pengumuman penting lainnya.
 

Kita adalah corong informasi bagi warga
Kita bisa memanfaatkan fenomena viral, kemudian diangkat sebagai jembatan antara masyarakat dengan pihak yang berkepentingan.
 

Kita adalah corong aspirasi bagi diri sendiri
Selain, memperkaya pengetahuan bagi diri sendiri, kita bisa membagikannya dengan orang lain. Sumbang saran dan kontribusi bagi kepentingan umum.

Baca juga: Bedah Contoh Esai Ilmiah: Pemenang Artikel Terbaik

Kesimpulan

  • Literasi digital  merupakan sebuah kolaborasi antara kemampuan menggunakan perangkat teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) dengan kemampuan dalam bersosialisasi, kemampuan  dalam  pembelajaran, serta memiliki sikap, berpikir kritis, kreatif, serta inspiratif sebagai kompetensi digital.
  • Agar mampu berjalan dengan baik di dunia literasi digital, kita perlu menerapkan konsep 5R dan 4K. 5R terdiri dari Read (membaca), Research (riset), Reliable (tingkah kesalahan harus mendekati atau sama dengan nol), Reflecting (refleksi), dan w(r)ite (tulis). Sedangkan, 4K yaitu Komunikasi, Kolaborasi, Kreatifitas, dan Kritis dalam berpikir (critical thinking).
  • Content Creator yang baik adalah seorang kreator yang menjaga nama baik negaranya. Dalam hal ini adalah Indonesia.
  • Tahapan pembuatan konten dimulai dari alasan, ide, alur, dan media.
  • Jadilah corong informasi yang menyajikan konten positif untuk pemerintah, masyarakat, dan diri sendiri.


Referensi

  • Materi narasumber
  • Kominfo, 2017. TEKNOLOGI Masyarakat Indonesia: Malas Baca Tapi Cerewet di Medsos. Diakses pada 17 Agustus 2020, dari: https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media
  • GLN Kemendikbud, 2017. Materi Pendukung Literasi Digital. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Lebih baru Lebih lama