-->

Bedah Contoh Esai Ilmiah: Pemenang Artikel Terbaik

contoh esai ilmiah


Beberapa waktu yang lalu, saya akhirnya memutuskan untuk ikut serta dalam lomba menulis artikel yang diadakan oleh Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI) Nasional.

Agenda yang bertajuk "FoSSEI Menulis" diikuti oleh teman-teman di seluruh Indonesia, agendanya terbuka untuk Umum.

Dari banyaknya yang mengirimkan artikel, kemudian dipilih 50 Artikel terbaik untuk dipublikasikan di web FoSSEI Nasional, salah satunya artikel saya. Kemudian, dari 50 artikel tersebut disusutkan lagi untuk memperoleh 10 Besar. Alhamdulillah artikel atau esai ilmiah saya masuk 10 besar. Setelah itu, 10 besar artikel terbaik ditugaskan untuk membuat infografis sebagai penilaian akhir. Dari serangkaian seleksi, berkat dukungan teman-teman serta bantuan Sang Khalik, nama saya muncul sebagai pemenang Artikel terbaik (dalam artian Juara 1). Gak nyangka cuy.

Bingung. Cemas. Gugup. Mungkin itu rasa ketika saya memutuskan untuk ikut serta. Pikiran saya jauh menerawang ke langit sana, menimbang-nimbang untuk ikut atau tidak. Jujur saja, saya sempat berhenti mengikuti lomba menulis setahun lamanya.

Pertengahan tahun 2019 merupakan tahun terakhir bagi saya untuk ikut lomba menulis khususnya esai ilmiah. Di tahun 2020 saya hanya sekali pernah ikut lomba, itupun bukan menulis yakni lomba debat. Pertama kalinya bagi saya, tentu tawaran ini tidak mau saya tolak. Alhasil saya kembali merasakan deg-degkannya ikut lomba, serunya beradu intelektual dengan cantik.

Saya tau percobaan pertama saya di lomba debat pasti gagal. Ya gimana, tho pisau saya baru diasah H-1 lomba sedangkan teman saya yang juara sudah lama mengasah pisaunya (Skill).

Lama saya tidak ikut lomba menulis, saya terjun kembali berupaya lebih aktif menulis di tempat lain yakni di blog tercinta ini. Berharap kebiasaan-kebiasaan lama tidak pudar oleh waktu. Menulis di blog menjadi tantangan baru.

Di tahun ini saya berhasil menuntaskan 31 Hari Menulis, bagi saya ini keren. Bukan ajang keren-kerenan sih, ini lebih mengapresiasi hobi yang saya miliki.

Beberapa orang tidak henti-hentinya merayu saya untuk ikut lomba menulis, terkhusus lomba menulis esai dan karya tulis ilmiah. Pengen ikut, tapi itu tadi sudah nyaman nulis di blog pengen nyicip ngelomba lagi rasanya 'Apasih'.

Pelan-pelan secara tidak sadar saya dibuai untuk terlelap dalam zona nyaman. Mengurung jiwa-jiwa yang liar di dalam sebuah kertas. Saya ingin terbang menuju tak terbatas, melahirkan karya-karya.

Barang kali ide-ide yang tertulis di contoh esai ilmiah berikut ini bisa menjadi solusi terkini dan dipoles lebih ciamik.

Sebelumnya sedikit menjelaskan tentang esai dan artikel. Jujur saja saya agak kebingungan membedakannya. Selama ini saya berprinsip bahwa setiap tulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) itu memiliki struktur Pembuka - Isi - Penutup. Begitupun untuk esai dan artikel. Esai dan Artikel sendiri merupakan bagian dari KTI, jadi saya beranggapan bahwa keduanya memiliki struktur yang sama.

Namun, umumnya artikel yang kita kenal adalah tulisan yang banyak beredar di web atau blog termasuk tulisan ini.

Saya pernah membahas mengenai artikel dan jenis-jenisnya. Ada dua macam, mau dilihat dari siapa yang menulisnya atau dilihat dari isi tulisannya.

Menurut pandangan saya, artikel ilmiah yang saya lombakan di FoSSEI Menulis bisa dikatakan sebagai artikel argumentatif dan bisa pula dikatakan sebagai esai. Artikel argumentatif banyak diisi dengan argumen dari penulisnya, tentu didukung dengan referensi yang relevan. Sama halnya dengan kaidah penulisan esai.

Udahlah ya enggak selesai kalo mau didebatkan. Sebenarnya cara simpel membedakannya adalah dari struktur paragrafnya. Biasanya kalo artikel satu paragraf diisi dengan 3-5 kalimat saja, sedangkan esai idealnya berisi 5-7 kalimat dimana di sana sudah termuat kalimat utama dan penjelas. Nah jadi bikin mikir lagi nih wkwkk

Udah kelamaan intro ntar enggak jadi bedah esai dong hehe

Baiklah yuk disimak bedah contoh esai ilmiah ^_^


BMW (BOMB OF MILLENIAL’S WAQF): KONSEP BERWAKAF ALA MILENIAL MASA KINI

Oleh: Reskia Ekasari


Peringatan, bedah esai ini dijelaskan dengan menjabarkan tulisan asli terlebih dahulu yang ada dalam kotak. Kemudian, saya akan membedah perparagraf di bawah kotak tersebut.

PENDAHULUAN/PEMBUKA


Penduduk Indonesia saat ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan, khususnya penduduk dengan usia produktif yakni rentang umur 15 sampai 64 tahun. Bahkan berdasarkan hasil proyeksi penduduk Indonesia yang disusun oleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Badan Pusat Statistik (BPS), dan United Nations Population Fund (UNFPA), mengatakan bahwa pada tahun 2020 usia produktif  Indonesia akan mengalami yang namanya bonus demografi. Seiring dengan adanya bonus demografi, menurut McKinsey Global Institute, Indonesia diramalkan akan masuk dalam tujuh besar kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2030 (MGI, 2012). Bahkan menurut riset PricewaterhouseCoopers (PwC) yang merupakan salah satu penyedia jasa auditor besar dunia, menyebutkan posisi ekonomi Indonesia pada 2030 akan menempati posisi kelima di dunia.

Paragraf pertama pembuka:

Struktur esai ilmiah biasanya terdiri dari pembuka-isi-penutup. Pada paragraf pembuka, penting bagi penulis untuk menjabarkan latar belakang, kondisi kekinian, dan rasionalisasi gagasan. Nah pada paragraf pertama ini, saya menjelaskan perihal kondisi Indonesia terkini yang dilihat dari faktor demografi dan ekonominya. Ada tiga hal pokok pada contoh esai ilmiah yang di-highlight di atas yakni proyeksi penduduk Indonesia, Indonesia masuk ke 7 besar kekuatan ekonomi dunia, dan posisi kelima di dunia dalam hal ekonomi.

Usia produktif yang sebagian besar diisi oleh pemuda mampu menjadi lokomotif pembangunan ekonomi Indonesia, dengan catatan jika diarahkan secara tepat. Penulis berkeyakinan dengan mendorong mahasiswa selaku pemuda dalam berwirausaha dapat menyumbang angka persentase entrepreneur di Indonesia serta mampu meningkatkan pembangunan ekonomi. Namun, dalam pelaksanaannya membangun sebuah usaha mahasiswa seringkali terbatas pada modal. Wakaf dapat menjadi sumber modal bagi wirausaha muda yakni mahasiswa. Wakaf dapat menjadi sumber dana pembiayaan yang tidak hanya terbatas pada pembangunan infrastruktur tapi dapat menjadi solusi untuk pebisnis mikro yang terhambat modal. Sukmana dalam publikasi Bank Indonesia menyebutkan bahwa wakaf sebagai bagian dari instrumen pembiayaan syariah yang memungkinkan manfaat dari pengelolaan wakaf yang digunakan untuk banyak hal baik sebagai bantuan kebaikan, seperti membantu usaha kecil yang ingin mengembangkan sebuah usaha (BI, 2016). Jadi, wakaf berpotensi dalam menjawab permasalahan permodalan bagi mahasiswa yang ingin membangun usaha.

Paragraf kedua pembuka:

Pendahuluan atau pembuka esai ilmiah ini, saya tulis hanya ada dua paragraf saja. Padahal alangkah bagusnya terdiri dari tiga paragraf. Sudah kepalang tertulis, tho walau dikatakan sebagai esai pemenang bukan berarti tidak ada kekurannya hehe. Kenapa saya berkata seharusnya terdiri tiga paragraf saja sebaiknya? Jadi, begini sobat tips dan trik esai pada pendahuluannya:
  • Paragraf 1

Berisi mengenai gambaran umum sebuah tema/topik yang diangkat.
  • Paragraf 2

Berisi mengenai positif dan negatif sub topik yang kita angkat. Sub topik inilah yang kita sebut sebagai objek.
  • Paragraf 3

Berisi rasionalisasi gagasan yang menjelaskan bagaimana solusi yang kita tawarkan bisa menjadi pilihan yang patut diambil.

Namun, pada contoh esai ilmiah ini, paragraf pembuka hanya ada dua yakni paragraf satu sebagai pengantar umum dan paragraf kedua gabungan.

Adapun pada paragraf kedua ini penulis langsung berargumen bahwa mahasiswa dapat menyumbang angka untuk pembangunan ekonomi Indonesia. Kemudian, juga menjelaskan masalah yang dihadapi yakni tidak adanya modal. Rasionalisasi ide yang penulis jabarkan adalah terkait wakaf tunai yang mampu menjadi instrumen pembiayaan yang didukung oleh referensi dari Publikasi Bank Indonesia.

ISI


Potensi wakaf Indonesia saat ini sudah tidak bisa dianggap sepele lagi, pasalnya menurut Arno (2018) dalam penelitiannya menyebutkan jika sebanyak 10 persen saja penduduk muslim di Indonesia berwakaf sebesar Rp 10.000 perbulan, maka dana yang dihimpun mencapai Rp 197,0 miliar bahkan dalam setahun bisa menyentuh angka Rp 2,3 triliun. Pernyataan tersebut beriringan dari data BWI, bahwa di Indonesia potensi wakaf sudah mencapai Rp 180 triliun. Pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwasanya ketika wakaf digalakkan ke ranah mahasiswa dapat lebih menjangkau dan berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Paragraf pertama isi:

Saya mulai fokus membahas objek yang saya angkat yakni wakaf tunai. Penting sekali dalam membangun sebuah argumen didukung dengan referensi yang relevan. Dalam contoh esai ilmiah ini saya mengambil referensi dari publikasi artikel ilmiah di dalam jurnal yang ditulis oleh Arno dan publikasi data oleh BWI (Badan Wakaf Indonesia).

Pada dasarnya mahasiswa memiliki jiwa berwirausaha, hanya saja perlu adanya arahan dan bimbingan untuk mewujudkannya. Penulis selaku mahasiswa menawarkan sebuah konsep BMW (Bomb of Millenial’s Waqf) yang dapat menjadi solusi kebingungan calon entrepreneur mahasiswa. Penulis memberi sebutan BMW karena berharap bahwa konsep Bomb yang jika dilempar akan mengenai seluruh daerah di sekitarnya. Anggap saja bom merupakan wakaf yang nantinya dapat bermanfaat bagi pembangunan daerah di sekitarnya. Sedangkan Millenial’s Waqf atau Wakaf Milenial merupakan agen mahasiswa yang menjadi seorang wakif. BMW harapannya dapat menjadi “angin segar” dalam mengubah tatanan mindset job seeker yang masih tertanam di diri mahasiswa. Inti dari BMW adalah dari mahasiswa, untuk mahasiswa, wujudkan Indonesia maju.

Paragraf kedua isi:

Ingat teman-teman, pada isi tuangkanlah semua rincian gagasan esai kita. Sobat bisa mempelajari paragraf isi pada contoh esai ilmiah saya ini.

Pada paragraf kedua isi, saya berusaha menjelaskan konsep Bomb of Millenial’s Waqf.


Jika analisis yang Arno lakukan diimplementasikan dalam memproyeksi jumlah potensi wakaf yang dihimpun di ranah mahasiswa, maka akan diperoleh sebagai berikut.

Potensi Wakaf = Total Mahasiswa di Indonesia x Asumsi Wakaf perbulan
         = 6.924.511 x Rp 10.000
         = Rp 69 miliar (hampir 70 miliar) perbulan

Data mahasiswa tersebut mengacu pada pangkalan data pendidikan tinggi di tahun 2017. Masih dengan asumsi yang sama, jika ditotalkan dalam setahun dana wakaf yang dihimpun mencapai Rp 828 miliar.

Paragraf ketiga isi:

Saya menganalisis peluang wakaf tunai dari mahasiswa berdasarkan analisis yang dilakukan oleh Arno di dalam tulisannya. Selalu ingat, esai yang baik itu didukung dengan berbagai data yang relevan. Seperti contoh esai ilmiah yang saya tulis ini mencantumkan referensi dari Arno.

Apabila konsep BMW diterapkan di Sumatera Selatan, maka total dari 149.535 mahasiswa di Sumsel pada 2017 dikali dengan Rp 10.000 perbulan maka diperoleh dana sebesar Rp 1,5 miliar, setahunnya mencapai Rp 18 miliar. Jika sebesar 30 persen saja yang berwakaf setiap bulan, hal tersebut sudah mampu untuk dikatakan cukup dalam membantu permodalan usaha kecil mahasiswa di Sumsel. Berikut ini disajikan ilustrasi konsep BMW.

Paragraf keempat isi:

Pada paragraf ini saya mulai menjelaskan secara visual terkait konsep yang saya tawarkan. Ini merupakan resep rahasia untuk menggaet hati juri. Beginilah bentuk contoh esai ilmiah yang disukai juri.

Juri lebih menyukai konsep yang didesain secara menarik ketimbang hanya dijabarkan secara narasi. Adanya ilustrasi dapat menambah nilai esai sobat karena dengan adanya ilustrasi dapat mempermudah dalam memahami sebuah konsep atau gagasan yang ditawarkan.


Pada ilustrasi tersebut menjelaskan bahwa ketika seorang mahasiswa Universitas Sriwijaya ingin berwakaf, maka bisa melalui website BMW daerah lalu kemudian BMW sendiri berkerja sama dengan pihak perwakilan Badan Wakaf Indonesia di Palembang. Setelah dana terhimpun lalu bisa disalurkan kepada mahasiswa yang sedang mencari modal usaha. Dalam pelaksanaannya agar mempermudah mahasiswa yang ingin berwakaf, penulis mendesain hal tersebut dengan membuat platform online BMW perdaerah, misalnya bagian provinsi Sumsel bmw-sumsel.com. Berikut ini desain platform BMW daerah Sumatera Selatan.   

Paragraf kelima isi:

Pada paragraf ini, saya lebih merincikan gagasan saya dengan memberikan desain ilustrasi platform BMW. Menurut saya, sobatKus perlu sekali belajar untuk mendesain ketika ingin beranjak mengikuti lomba menulis karena sekali lagi saya katakan itu dapat menambah value pada penilaian esai.

Apalagi ketika sobat mampu membuat rancangan platform web maupun aplikasi, bisa dapat lebih lagi menambah value dari esai tersebut. Ada tiga hierarki dalam pengajuan gagasan pada esai. (1) Hierarki terbawah (low) adalah gagasan yang ditulis sekadar narasi, tanpa realisasi. (2) Hierarki tengah (middle) adalah gagasan yang ditulis narasi, divisualisasi, tapi belum direalisasi. (3) Hierarki tertinggi (top) adalah gagasan yang ditulis narasi, visualisasi, dan telah direalisasi.

Pada contoh esai ilmiah yang saya buat ini masih dalam kategore middle, tentu hal ini dikarenakan masih terbatasnya modal yang saya miliki baik secara skill maupun finansial. Duh sedih gak sih hiks


Platform online BMW didesain semenarik mungkin agar menambah daya tarik mahasiswa untuk berwakaf, kemudian dibuat agar lebih mempermudah dalam hal berwakaf. Tidak hanya itu, pemilihan platform online dilatarbelakangi oleh kemajuan teknologi yang semakin pesat, mau tidak mau harus dapat mengikuti perubahan jaman yang sekarang sudah menginjak era revolusi industri 4.0. Adapun sistem pembiayaan yang dilakukan menggunakan akad mudharabah. Dimana kesepakatan antara dua belah pihak dengan keuntungan berdasarkan nisbah (bagi hasil). Disini penulis menyarankan agar rasio keuntungan adalah sebesar 80:20, dimana 80 persen akan menjadi keuntungan bagi pelaku usaha dan 20 persen akan kembali ke BMW Sumsel yang akan diberikan ke BWI daerah tersebut untuk disalurkan kepada saudara yang membutuhkan.
Adapun agar dapat mempermudah menilai kelayakan dari platform BMW, maka penulis melakukan analisis SWOT sebagai berikut.....

Paragraf keenam dan ketujuh isi:

Pada paragraf dua terakhir di isi, saya masih menjelaskan secara detail terkait konsep ide yang saya tawarkan. Ada baiknya ketika gagasan tersebut masih dalam tahapan rancangan, perlu dianalisis dengan analisis SWOT atau analisis kelayakan produk/ide lainnya.

PENUTUP


Wakaf tunai merupakan instrumen pembiayaan syariah yang dapat diterapkan untuk usaha produktif. Dengan adanya konsep BMW (Bomb of Millenial’s Waqf), harapannya dapat memacu semangat pemuda Indonesia untuk berwakaf. BMW sendiri hadir dengan segala kemudahan bagi pelaku usaha yang terbatas modal tetapi ingin berwirausaha. Platform online BMW dipilih karena dilatarbelakangi oleh era revolusi industri 4.0 yang mau tidak mau kita harus mengikuti perkembangan zaman. Dalam implementasinya, sistem pembiayaan yang dilakukan menggunakan akad mudharabah. BMW menjadi solusi bersama dari mahasiswa untuk Indonesia maju.

Paragraf penutup:


Bedah paragraf terakhir yakni paragraf penutup. Paragraf ini ditulis secara ringkas dengan menyajikan rangkuman dari gagasan esai ilmiah yang ditawarkan.

Baiklah cukup sekian bedah contoh esai ilmiah pemenang pada ajang lomba menulis Artikel, FoSSEI Menulis 2020.

Terima kasih sobatkus, semoga bermanfaat :)

Update terbaru, kepo lebih lanjut!:

38 Responses to "Bedah Contoh Esai Ilmiah: Pemenang Artikel Terbaik"

  1. Sebelumnya selamatnya mbak, esai nya sudah menang Lomba. Keren esainya.. Dulu ikut FLP, tapi baru yang fiksi doang. BTW infonya dong tentang 31hari menulis nya..

    ReplyDelete
  2. Pas ngobrolin tentang lomba debat, jadi ingat dulu awal masuk kuliah langsung ditunjuk untuk perwakilan lomba debat. Saingannya kakak tingkat. Udah usaha buat bertahan, akhirnya kalah juga, hehe. Selamat atas keberhasilannya kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi mantap tuh langsung diberi kepercayaan gitu yahh

      Alhamdulillah makasih mbak

      Delete
  3. Enak juga ya kalo jadi penulis atau jurnalis, bisa menuangkan suatu konten dengan tulisan.
    Tapi kok Kalo ingent esai, jadi inget soal ulangan berupa esai ya hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa esai dalam konteks soal adalah isian yang panjang gitu wkwk

      Delete
  4. Awalnya, saya kira menulis artikel untuk essai itu sama saja dengan kita menulis di blog, namun ternyata perbedaannya sangat jauh sekali. Di dalam essai, kita tidak boleh menulis secara sembarangan, harus dipikirkan matang-matang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyapp, kalo esai kebanyakan data. Kalaupun ada argumen harus didukung pula sama data, atau paling tidak argumennya masuk akal. Eh artikel juga gitu sih, cuman gak sekompleks esai huhu

      Delete
  5. karyanya mantap min, aku juga suka nulis, dengan menulis dan membaca bisa menambah wawasan agar kita mempunyai pengetahuan yang luas :)

    ReplyDelete
  6. saya masih belum bisa menulis tertata satu paragraf deh

    ReplyDelete
  7. Essai ilmiah dalam lomba terdiri dari unsur gagasan yang ditawarkan. Dan data terkini. Terlebih lagi dari cara penulis menyampaikan tema judul. Kalo saya liat pemenang essai ini, memiliki unsur tadi. Lugas rapih dan tidak bertele-tele. Saya bisa belajar dari essai ilmiah pemenang ini untuk menulis essay lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah tepat sekali. Biasanya yang menang esai, judulnya itu lugas serta unik. Kebanyakan unik sih sepengalaman saya. Jadi pas pertama kali juri baca, timbul rasa penasaran "Ini tulisan bahas apa yah, kok menarik gitu?" Tapi yang perlu diingat, jangan sampai judul membohongi isi ehehe

      Selamat berkarya yah

      Delete
  8. Esai pemenangnya punyaan mimin ga nih? Btw, bedah esai ilmiah ginian susah banget loh ya. Perlu skill tentunya dan juga butuh ketelitian yang baik. Buat aja susah, apalagi mengeritisi gini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwk nulis sendiri, kritisi sendiri. Ya gitu deh hihi

      Delete
  9. Bermanfaat banget artikelnya. Kebetulan beberapa waktu lalu sempet kepikiran mau ikut lomba esai juga tapi masih bingung struktur penulisannya gimana. Pas banget ketemu ini, jadi lebih kebayang. Tulisannya keren btw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah makasih kak. Semangat ya, sukses untuk lombanya. Jangan berhenti berkarya yah :D

      Delete
  10. Blog sampah gue menangis melihat tulisan di blog ini. Serapih itu. 😭👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya mau sedih, tapi mau ngakak juga wkwkwkk

      Mangats kak, nulis terus yah. Btw terima kasih sudah berkunjung :D

      Delete
  11. wow mabtab kak, tulisannya keren dan berbobot,
    mengenai penerapan konsep wakaf tunai untuk mendorang usaha usaha baru, ini konsep yang keren banget, berwakaf dapat pahala dan bisa membantu orang yang sedang usaha.

    tio-iotomagz

    ReplyDelete
  12. Otak itu memang ibarat pisau, harus terus kita asah
    Saya sendiripun baru aktif kmbali menulis di blog

    Semangat terus ya 😊

    ReplyDelete
  13. Wihh, keren banget kak! Selamat atas keberhasilannya! Saya selalu salut sama penulis-penulis essai yg selalu punya ide brilian untuk kemajuan baik sebuah instansi, atau negara sendiri. Seringkali kalau ada lomba essai saya suka mandek di bagian idenya, hal apa yg mau saya rancang, penelitian macam apa yg mau saya buat dan penting untuk ditulis di essai dll, makasi udh share pengetahuannya disini ya kak! Saya jadi tahu resep2 bagaimana membuat essai yg baik dan benar.😍😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi iya kak, saya juga sering mandek. Pas ada idenya eh malah gak tau gimana cara nuanginnya ke dalam bentuk tulisan.

      Selamat berkarya juga ya kak :D

      Delete
  14. Ternyata potensi wakaf di Indonesia sangat besar ya, sampai 70 miliar perbulan padahal itu yang wakaf cuma 10 ribu, coba kalo 50 ribu bisa dapat 350 miliar perbulan atau sekitar 4 triliun setahun.

    Semoga mbak Kus menang lomba esainya. Kalau pun tidak menang yang penting sudah berusaha, tetap semangat ya mbak.😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi iya kak sudah selesai lombanya. Alhamdulillah menang :3

      Delete
  15. Sepakat banget sama tips menulis esai di atas. Memang menulis esai wajib banget sistematis dan berbobot, beda ketika nulis lomba dg platform blog, biasanya meskipun sistematis bahasanya lebih ringan, tp kl nulis esai ada banyak pertimbangan lainnya. Keren nih jago nulis esai, mangatsss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi makasih ya mbak. Mbak ella nih lho jago ikut lomba blog uhuy

      Delete
  16. Dlu juga pernah ikut lomba deg2an juga smpe ngomong terbata2. Alhamdulillah juara harapan 2.. haha lumayanin aja.
    Keren bedah essainya...
    Saya nggk begitu ahli sih dalam penulisan essai atau karya ilmiah. Soalnya beda banget sama nulis di blog.. kan kalau essai ada sistematika penulisannya dan bahasa yg sesuai sama EYD. Kalau nulis di blog yah biasa bahasanya simpe dan pendek..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh pernah ikutan juga yah. Hihi paling gk pernah nyoba gimana deg-degkannya pas lomba. Lomba 17an nih, deg2kan juga wkwk

      Iya, kalo esai bahasanya lebih berat sih. Ini saya menyeimbangkan beljara nulisnya dengan menulis di blog juga. Biar gak stress ya kan wkwkwk

      Delete
  17. Luar biasa bisa jadi pemenang lomba nulis. Apalagi dengan saingan sebanyak 50 orang. Banyak bgt pelajaran yg dapt saya ambil dari artikel yang panjang ini. Thank's sudah berbagi min.

    ReplyDelete
  18. Saya masih kesulitan dalam menulis dengan tataan yang baik itu gimana

    ReplyDelete

Mari berkomentar dengan sopan, harap memberikan komentar sesuai postingan, dan mohon maaf dilarang menaruh link aktif, dsb. Terima kasih :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel