Generos, Lebaran dan Omongan Tetangga

Daftar isi [Tampil]
Baca juga:
Generos, Lebaran dan Omongan Tetangga
Generos, Lebaran dan Omongan Tetangga

Yang lebih menyakitkan daripada pisau adalah kata-kata. Pisau bisa membunuh, tapi sakitnya hanya sekali dan tidak bersemayam. Sedangkan, kata-kata, ia tidak membunuh secara langsung melainkan perlahan-lahan merasuk ke dalam hati dan pikiran. Dampaknya kepada kesehatan mental, kinerja dan insekuritas. Belum lagi ke lingkungan sosial. Makanya, dalam Islam, dosa dari fitnah dan gibah itu berat sekali. 

Sialnya, kita hidup di negara yang menjadikan kegiatan untuk ngomongin/julid ke orang lain adalah hal yang normal. Bahkan, beberapa kalangan masyarakat menganggap hal ini sebagai tradisi yang perlu dilestarikan. Aduh, cocotnya pengin tak pateni. Sekarang mungkin puasa, orang-orang akan menahan diri untuk tidak melakukan hal tersebut. Ya, paling banter saat sudah berbuka puasa baru demikian. Kegiatannya terminimalisir.

Namun itu hanya kelegaan sesaat, karena setelahnya akan ada badai yang datang. Iya, badai itu bernama lebaran. Momentum lebaran untuk bermaaf-maafan justru menjadi ironi, karena bertemu untuk silaturahmi dan meminta maaf, kumpul keluarga besar menjadi momok. Pertanyaan-pertanyaan template seputar pekerjaan, pendidikan, karir, jodoh, harta, tahta, dan bla bla bla lainnya begitu lancar terucap.

"Sekarang gimana kuliahnya?" "Kok belum kerja!?" "Anak tante udah segini penghasilannya" "Kurusin atuh badannya" "Ya ampun, kok belum punya anak?" sekiranya adalah sebagian dari kalimat template yang ada. Tak ada batasan, tak ada kiasan, dan tak ada rasa bersalah atas hati yang sakit karena sindiran.

Tidak usah menyangkal hal ini. Ini sudah jadi rahasia umum, dan kita sama-sama tahu dalam keluarga besar pasti ada saja saudara yang mulutnya itu rapper. Ngomong nyerocos, cepat dan dengan tempo yang singkat, namun sayangnya bikin sakit hati sekali. Padahal, bakat itu harusnya disalurkan ke hal yang lebih bermanfaat.

Generos, Lebaran dan Omongan Tetangga

Mungkin rasa sakit hati itu tidak seberapa kalau ucapan itu datang dari orang asing, tapi kalau dari saudara itu rasanya lebih-lebih. Mungkin rasanya tidak akan terlalu sakit kalau hanya diri sendiri yang ditanya-tanya, tapi kalau menyangkut anggota keluarga kecil sendiri, rasanya lebih sakit. Sakit sekali rasanya, apalagi menyangkut anak atau orang tua.

Itu juga yang dialami oleh tetangga saya. Momentum mendekati lebaran ini ia merasa ketakutan, takutnya bukan horor atau seram, tapi takut untuk menghadapi omongan-omongan perih dari saudara/keluarga besarnya. Apalagi, ini menyangkut anaknya yang sudah menginjak 2 tahun tapi perkembangan bicaranya terhambat.

Walaupun saya bukan keluarga dekat dari tetangga saya ini, saya tetap ikut andil merasakan rasa sakitnya, ya walaupun baru sekadar memproyeksikan kelak nanti. Untuk membantu menutup cangkem saudara tetangga saya itu, saya kasih Generos yang saban hari lalu dikirim ke saya. masih ada satu kotak, jadi saya berikan saja semuanya.

Apakah tetangga saya menolak? tentu saja tidak. kemasan mewah dan hard cover dari Generos tentu tidak membuat tetangga saya berpikir dua kali untuk menerimanya. Langsung diambil dengan senang hati! Apalagi, momentum yang sedikit lagi lebaran ini, hitung-hitung parsel/hampers/hadiah atau semacamnya. Wqwqwq, biasalah. 

Semenjak memberi Generos kepada tetangga saya, nggak pernah ada cerita saya tanya-tanya ke dirinya. Nggak, saya memberi karena pengin membuat tetangga saya tidak jadi bahan omongan saudaranya yang jahat itu. Itu saja cukup membuat saya senang bukan main. Tapi namanya sesuatu yang ditanam baik, pasti ada tuai yang baik juga.

Tetangga saya itu langsung merocos cerita banyak saat bertemu saya kembali. Generosnya katanya cukup ampuh. Alhamdulillah, saya ikut senang mendengarnya. Speech delay yang dialami anaknya, lalu perkembangan lainnya yang terhambat pelan-pelan dapat diatasi. Tentu saja, ikhtiar juga dengan tetangga saya yang mengajari anaknya itu.

"Jadi sudah bisa balas dendam nih, ceritanya?" 
"Nggak jadi, Lif!" 
"Loh kenapa?" 
"Kasian anak saya, nanti udah lancar ngomong takutnya jadi ketularan omongan nggak baik. Terus, nanti saudara saya jadi baperan dehhh" 

Ealahhh iya juga, ya. Penyakit orang sekarang, ngomongin orang tapi dikasih tahu balik malah lebih galak! Lagian, kesehatan anak itu lebih penting daripada apapun kan, ya? Lebih baik mendengar ocehan anak-anak yang baru belajar daripada omongan jahat dari orang-orang dewasa yang kelakuannya menyebalkan. Barangkali, sebenarnya mereka yang lebih butuh Generos, karena omongan jahat mereka (mungkin) karena proses berpikir mereka terhambat, jadi nggak berakal kalau ngomong! Wqwqwq~

Ditulis oleh Alif

Post a Comment

Mari berkomentar dengan sopan, harap memberikan komentar sesuai postingan, dan mohon maaf dilarang menaruh link aktif, dsb. Terima kasih :)

Lebih baru Lebih lama