SElesai yang Beneran Kelar: Cerita Yudisium hingga Wisuda Online

Daftar isi [Tampil]
Cerita Yudisium hingga Wisuda Online

Saat itu, tepat tanggal 7 Juni 2022, saya mengikuti yudisium fakultas. Acara ini merupakan acara yang sakral bagi saya. Pada acara ini hadir dua sosok yang paling berharga dalam hidup saya yaitu emak dan bapak.

Acara ini sebuah akhir dari perjalanan panjang yang saya lalui selama lebih dari empat tahun mengenyam bangku kuliah (hampir lima tahun, kurang dua bulan lagi hehe). Hari itu menjadi kado untuk kedua orangtua saya yang sudah susah payah banting tulang demi anaknya bisa berkuliah.

Ada perasaan yang sulit sekali saya definisikan, perasaan antara lega, bahagia, sedih, bercampur menjadi satu. Sulit sekali didefinisikan. Saya tahu betul, di balik bapak yang diam dan biasa-biasa saja, terdapat berjuta-juta rasa bangga terhadap anaknya. Kulihat dirinya asyik betul memotret agenda yudisium, hingga senyum tipisnya mengembang tatkala melihat hasil jepretannya sendiri.

Wajah itu masih sama seperti dulu ketika beliau menunggu pengumuman kelulusan anaknya yang ingin sekolah di sekolah unggulan. Wajah yang sama seperti dulu mengantarkan anaknya masuk asrama SMA. Dan masih wajah yang sama seperti dulu mengantarkan anaknya hidup di kos-kosan yang serba pas-pasan.

Begitu juga emak, masih terngiang-ngiang di benak saya wajah emak ketika menunggu pengumuman kelulusan SNMPTN. Wajah yang haru, bangga, hingga berseru riang melihat warna hijau di layar handphone saya. Senyumnya, membuat semua masalah dan beban pikiran hilang seketika.

Emak, Pak, anakmu sudah menunaikan salah satu amanah yang diberikan. Tak terasa, hari itu kalian bisa hadir dan duduk menyaksikan kelulusan anakmu ini. Alhamdulillah. Waktu terasa cepat sekali berlalu.

Saya teringat salah satu momen di mana Pak Dekan meminta kami (peserta yudisium) untuk mengucapkan terima kasih kepada orangtua atau wali yang mendampingi. Kuucapkan kata terima kasih itu dengan kaku, terutama dengan bapak.

Kata itu seakan berat untuk diucapkan, mengingat betapa jarangnya diri ini mengucapkan kata itu secara langsung. Entahlah seperti ada rasa aneh, ketika mengucapkannya. Saya tahu, kata terima kasih ini tidak cukup untuk membalas semua jasa-jasa orangtua saya.

Post a Comment

Mari berkomentar dengan sopan, harap memberikan komentar sesuai postingan, dan mohon maaf dilarang menaruh link aktif, dsb. Terima kasih :)

Lebih baru Lebih lama