Writing is Healing

menulis
Menulis

Berawal dari keisengan saya membaca tulisan pada akun instagram yang membahas dunia parenting, saya malah tersasar pada akun instagram yang bertemakan psikologi. Bukan disengaja, tapi sepertinya jari-jari tangan saya tau bahwa saya lagi butuh tulisan yang bisa menjadi terapi diri.

Heal Yourself, begitulah tajuk dari nama akunnya. Langsung saya follow dan saya keep beberapa postingan yang menurut saya sangat menarik untuk dituliskan ulang. Bukan untuk diplagiat tapi untuk menjadi referensi tulisan saya sekaligus menjadi terapi diri untuk saya pribadi.

Kita tidak bisa terus-terusan menahan emosi, entah emosi itu berupa amarah yang dipendam, sedih yang terlalu disembunyikan, benci yang dibekukan. Tidak, tidak, kita tidak bisa terus-terusan begitu. "Kenapa sih aku marah sama kamu?"
"Kenapa sih aku kok sedih terus?"
"Kenapa ya aku tiba-tiba benci sama dia?"

Jangan tanya saya, Apakah saya bisa mengatasi hal tersebut dengan mudah? Tentu tidak. Perlu waktu untuk menyembuhkan apa-apa saja yang membuat saya kepikiran hingga menjelang tidur.

Menurut saya, salah satu upaya untuk mewaraskan pikiran adalah dengan menulis. Menulis mempunyai kekuatan super untuk meminimalisir cikal bakal stres. Seringkali kita disibukkan dengan beberapa hal hingga lupa bahwa diri perlu jeda. Menulis, bisa menjadi jeda atas kesibukan yang mungkin membuat kita merasa stres. Mari menulis, rehatlah sejenak dari aktivitasmu yang menyita pikiran beserta jiwa dan raga.

Tidak semua hal bisa dilisankan, menulis memang bisa menjadi solusi berkomunikasi non-lisan. Sebuah cerita mungkin tidak bisa dijelaskan secara rinci dengan diungkapkan melalu bicara, tetapi menuliskannya saya bisa merekam sudut-sudut penting hingga receh.

Melihat dari akun Heal Yourself tadi, saya menemukan salah satu kutipan menarik yang menjadi alasan kenapa harus menulis.
By remembering and retelling events, people can deal and making sense of the past." Charmaz, 1991.
Iya, dengan menulis kita dapat mengingat kembali dan menceritakan kembali sebuah peristiwa beserta pelaku-pelaku sejarah di dalam cerita tersebut hingga kita merasakannya kembali.

You can make anything by writing." C.S. Lewis

Jika dikumpulkan seluruh kutipan mengenai menulis, mungkin tidak akan cukup satu artikel ini. Percayalah, menulis mampu membuatmu lebih bahagia, lebih memaknai kehidupan, lebih mencintai dirimu sendiri.

#31HariMenulis

14 Comments

Mari berkomentar dengan sopan, harap memberikan komentar sesuai postingan, dan mohon maaf dilarang menaruh link aktif, dsb. Terima kasih :)

  1. Menulis itu emang kayak magic, bisa membuat kita lebih memaknai hidup, lebih memahami diri sendiri dan bisa melepaskan perasaan di dada.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener banget, semoga kita terus senantiasa menulis yah😊

      Delete
  2. menulis bisa membuat kita jadi lebih sehat.. kenyataanya gw selalu nulis di blog yang isinya curhat, jadi buat gw nulis itu seperti curhat dengan orang lain, bisa mengeluarkan sesuatu unek-unek di kepala... tiap orang punya cara sendiri dengan menulis, dan gimana dia menghelaing pikiranya dengan menulis... gw komentar apa sih ini sebenrnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Curhat mulu sih, eh sama punya saya juga sebagian besar isinya kehidupan sehari-hari. Personal gitu. Rasanya kalo gak ditulis, kata-kata itu bakal berkeliaran di kepala. Berlari kesana-kemari, yaudah mari tuliskan saja.

      Delete
  3. Tapi kalau jadi pekerja teks komersial kayak saya, nulis malah beban dan bikin stres, apalagi kalau ada deadline.
    Belakangan nyoba lagi nulis buat diri sendiri, yg terapeutik gitu, lupa lagi caranya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya juga sih, tapi kalo hobi yang dijadikan uang pasti tetap bakalan senang kok hihi

      Coba rehat sejenak kak, menulis ekspresif saja dulu. Melepas lelah kerja, kerja yang dikejar deadline 😁

      Delete
  4. karena kalau dibayangkan unek-unek yang dimiliki tidak terdistribusikan secara merata. Nah makanya semisal unek-unek itu ditulis, entah untuk dibagikan atau hanya disimpan sebagai memori pribadi, nah dri situ kita merefresh dan mencoba untuk berdamai dengan :
    "masalah yang kita punya"
    "Emosi yang sedang berkecamuk"
    sehingga menghasilkan pikiran-pikiran yang mengeyaudahkan keadaan dan terus lanjut ke fase melanjutkan atau penyelesaiannya seperti apa.
    Kadang kalau kita bisa bijak, konon dari menulis kita bisa berdamai dengan diri sendiri. dan itu penting. #yaelah bay, lu ngomong apa coba... wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah betol itu, ayo kita menulis! Salurkan unek-unek yang menyimpil disela-sela hati. Lama disimpan, tau-tau udah busuk. Duh janganlah busuk, yuk abadikan saja di tulisan hahah

      Wah kapan ya bisa bijak, tulisanku kadang semaunya aja nih nulis wkwk

      Delete
  5. Betul sekali mbak, menulis memang bisa jadi solusi kalo lagi banyak pikiran, bisa juga menulis di buku harian agar hanya Allah dan diri kita yang tahu, bisa juga menulis di blog, tapi kalo menulis di blog harus tahu mana yang untuk umum, mana yang tidak boleh diceritakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dimanapun kita bisa menulis ya kak heheh

      Yup, kita masih punya privasi. Maka perlu difilter mana untuk publik, mana yang dikonsumsi pribadi😊

      Delete
  6. Saya kebanyakan nulis hal yg remeh temeh alias recehan, tapi ya udahlah namanya nulis kn gak bisa dipaksain harus gini gitu niru kayak orang lain, feel nya bakalan beda aja, nulis aja yg memang gampang di mengerti, gak usah ikut"an nulis yg temanya ga bisa dikuasai agar biar terlihat keren dimata orang lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama kok, saya juga kalo dihitung2 kebanyakan receh dibanding ribuannya wkwk

      Bener banget, nulis itu gak bisa dipaksain. Yg tau diri kita sendiri, ya kita. Passion kita apa yang tau ya kita ehehee

      Delete
  7. Aku telah lakukan ini dari sejak lama Kak. Masih dalam laman kertas, dan baru setahun ini belajar nulis di blog.

    Coba dari dulu kenal blog, mungkin tulisanku udah banyak hehe.

    Tapi di buku (Aku lebih suka nulis di buku biasa). Oleh karena itu tulisan ku gak terarsipkan.

    Setelah baca ini aku sadar, kenapa dulu setiap aku nulis rasanya seperti abis teriak kencang di tepi pantai pada deru ombak.

    Rasanya lega dan melegakan. Nulis memang menyembuhkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahah aku udah lama kenal og, tapi ya baru sekitar dua tahun ini aktif lagi. Kemren-kmren gak ngerti sih mau nulis apa disini. Kadang gak semangat juga, gak punya temen yang sehobian gitu. Akhirnya di tahun ini saya berkomitmen untuk kembali aktif menulis, ya minimal satu postingan perminggunya.

      Ayok kak semangat menulisnya. Bener banget menulis setulus hati itu melegakan hehe

      Delete

Post a Comment

Mari berkomentar dengan sopan, harap memberikan komentar sesuai postingan, dan mohon maaf dilarang menaruh link aktif, dsb. Terima kasih :)

Previous Post Next Post