Sebuah Cerita: Jalan Kaki

Jalan kaki
sumber: beritagresik.com

Hari ini saya berniat menuliskan cerita saya semasa Sekolah Dasar (SD). Saya berusaha keras mengubek-ubek ingatan masa lalu. 

Dari sekian banyak yang mungkin bisa saya tulis perihal cerita di masa SD, kali ini saya ingin bercerita mengenai Jalan Kaki saja. Pikiran yang melintas sesaat, tapi rasanya gatal jika tidak dituliskan segera.

Sedikit memberi pengetahuan, dari hasil search ke google saya menemukan fakta menarik di situs cnnindonesia perihal fakta berjalan kaki. Menurut jurnal Archives of Internal Medicine, Berjalan kaki di luar ruangan atau outdoor selama 15 menit dapat meningkatkan suasana hati. Selain itu, rutin berjalan kaki dapat mengurangi depresi diri. Kemarin saya menuliskan bahwa menulis dapat mengurangi depresi, nah kali ini ternyata berjalan kaki juga bisa mengurangi depresi.

Itu mungkin sedikit pengantar tentang manfaat berjalan kaki. Kembali pada cerita saya pada kali ini, bahwa sewaktu SD dan hingga saya menempuh perguruan tinggi saya gemar berjalan kaki.
Dulu, saya mempunya tiga sekolah dasar yang berbeda-beda provinsi, tapi ya tetap lulus hanya pada satu sekolah saja :

Sekolah pertama saya berada di Provinsi Riau, tepatnya di kabupaten Indragiri Hilir. Sekolah kedua saya berada di Jambi, Kerinci. Kemudian, sekolah ketiga saya berada di Sumatera Selatan, Musi Banyuasin. Wah banyak sekali ya sekolah saya hihi. Itupun pas saya buka buku rapor SD di bagian belakang sudah hampir penuh tulisan Keluar-Masuk. Ya mau bagaimana lagi, semasa dulu memang orang tua saya masih merantau berpindah tempat. Pas kepindahan sekolah saya yang terakhir baru menetap 'agak lama' tapi tidak tau sampai kapan.
 
Di Riau, sekolah saya bisa dibilang lumayan jauh. Kemungkinan ditempuh dengan berjalan kaki, bisa menghabiskan waktu 1 jam perjalanan. Sedangkan, bersepeda bisa 30 menitan. Di tempat saya itu penduduknya mayoritas orang rantauan, jadi bukan penduduk asli. Waktu dulu, motor disana hanya beberapa orang yang punya. Kebanyakan di antara mereka berkendara menggunai sepeda, iya sepeda yang dikayuh pakai kaki :v

Di rumah saya ada tiga sepeda, sepeda bapak, sepeda emak, dan sepeda saya. Karena disana iklim budayanya menggunakan sepeda, jadi saya agak jarang berjalan kaki. Namun, jika musim banjir melanda karena wilayahnya kepulauan, saya mau tak mau harus jalan kaki di jalanan yang super becek.

Becek becek nggak ada ojek hadeeh.


Banjir
sumber: kaltimtoday.co

Ini momen yang paling saya ingat, momen berjalan kaki pada saat banjir. Di komplek saya waktu itu semuanya terendam banjir, beruntung saja perumahan disana sebagian besar bentuknya rumah panggung. Bersyukur yang terendam hanya kolongnya saja. Tapi, sobatkus pasti berpikir, "Bagaimana ke sekolahnya? Apakah Libur?" Tentu sekolah tetap sekolah, tak ada hari libur selain libur yang sudah dijadwalkan di kalender sekolah. Banjir hanya sering melanda perumahan yang dekat dengan air laut. Sekolah saya tentunya sudah jauh mengarah ke pusat 'kota' dan tentunya berada di dataran yang lebih tinggi.

Saya tidak bisa sekolah dengan sepeda, akhirnya saya diantar bapak untuk keluar dari komplek. Mungkin sekitar 15 menitan untuk keluar dari komplek saya. Wah momen ini mungkin yang sangat membekas diingatan saya, bapak yang menggendong putri sulungnya melewati banjir setinggi pinggang orang dewasa untuk pergi ke sekolah. Bak hero di tengah banjir haha

Perjalanan saya belum selesai, terlepas dari banjir saya harus melewati merahnya tanah liat. Sudah ada kantong plastik hitam di tas saya, Hayo untuk apa ? Kantong plastik berfungsi untuk menahan becek-becek di sepatu hitam saya. Sebelumnya saya sudah mengenakan sepatu lengkap dengan kaos kakinya. Melewati tanah liat kemungkinan 10menitan, kemudian bertemu dengan jembatan besar penghubung jalan komplek dengan jalan raya. Akhirnya saya menemukan jalan raya (beraspal) untuk melanjutkan perjalanan ke sekolah. Inilah sebuah perjuangan :)

Perjuangan saya berakhir hingga penerimaan rapor semester genap di kelas 2 yaitu pada saat kenaikan kelas. Saya naik ke kelas 3, namun harus pindah sekolah karena rencananya saya mau punya adik baru. Lho apa hubungannya pindah sekolah dengan punya adik?

Emak saya atau bahasa lainnya Ibu, ingin melahirkan di tanah kelahirannya saja. Istilah familiar yang kita kenal, Pulang Kampung. Ya, kami pulang kampung.

Saya memulai babak baru di tanah Kerinci nan hijau yang sejuk. Berada di kaki Gunung Kerinci, disanalah tempat saya menimba ilmu. Tidak tepat di bawah gunungnya sih, bisa dibilang 2 jam-an dari gunung. Walau terbilang cukup jauh, gunung yang dinobatkan sebagai gunung tertinggi di Sumatera ini masih terlihat dari rumah saya.

Di Kerinci, saya ke sekolah dengan berjalan kaki. Kali ini, saya cukup tidak berkeringat ketika pergi-pulang sekolah karena tempatnya yang hanya 15 menitan dari rumah. Tetap saja, berjalan kaki itu menyehatkan bukan? Hihihi

Ketika saya mengingat momen berjalan kaki dulu saat di Kerinci, ada satu hal yang paling saya ingat. Arah menuju ke sekolah, seringkali tangan saya singgah sejenak pada tumbuh-tumbuhan yang di dalamnya hidup makhluk bersayap cantik. Saya lupa namanya, yang saya ingat ukurannya lebih besar dari kepik. Nah, mirip seperti ini tetapi sayapnya lebih banyak variasi motif, tidak hanya keemasan saja.

Sejenis kepik
sumber: intisari.grid.id

Tidak terlalu lama saya mengenyam bangku sekolah di Kerinci, selepas semester genap kelas 3 saya sudah pindah lagi ke kota Wong Kito Galo.

Di sekolah saya yang satu ini, iklim budayanya berjalan kaki. Secara berombongan berjalan kaki menyusuri jalanan beraspal, Alhamdulillah setidaknya tidak ada becek-becek lagi. Hanya saja, sekolah saya yang ini letaknya berada di ujung desa. Kalau di tempuh dengan berjalan sedang sekitar 45 menitan. Bercawa ria sekitar 1 jam-an. Versi ngebut lari-larian sekitar 30 menit.

Ketika berjalan kaki, kedekatan antar sesama teman rasanya terbangun begitu intim. Kita bercerita banyak hal, bercanda hahahihi, ya walaupun kadang kala berdiaman (saling diam) satu sama lain untuk fokus melihat jalan.

Saya cukup nakal waktu itu, ketika pulang sekolah melewati jalan pintas di area perkebunan. Saat musim durian tiba, ada beberapa durian runtuh yang sengaja kami singgahi untuk dicari. Yup ketemu, dulu rasanya semua kebun orang itu kebunnya Wak Kari. Kari ambek bae yang artinya tinggal ambil saja. Wak untuk panggilan paman atau bibi, dan Kari artinya ambil. Jadi, kebunnya bibi/paman yang boleh diambil saja. Memang ada beberapa kebun yang boleh diambil saja, alias si pemiliknya tidak mengurus kebunnya lagi. Ini merupakan keuntungan ketika melewati jalan pintas hahaha

Ketika waktu pulang, saya juga sering singgah sejenak di beberapa gardu di pinggir jalan. Rasanya ada dua gardu yang sering saya singgahi. Gardunya berdekatan, tetapi yang paling favorit adalah gardu yang terakhir ada hawa-hawa dingin akibat angin sepoi pepohonan lebat yang meneduhkan.

Begitulah kira-kira cerita jalan kaki semasa saya masih mengenakan seragam merah putih.

Ketika SMP saya masih berjalan kaki hanya saja intensitasnya sudah berkurang. Perlahan mulai berganti memakai motor, masih di bawah umur sih ya tapi...Banyak tapi tapi, kalo melanggar ya tetap melanggar. Percayalah di desa tidak seramai di kota. Jadi, memakai motor bagi anak seusia saya sewaktu dulu, kalau di desa memanglah sudah menjadi 'pemakluman' bagi masyarakatnya

SMA, saya anak asrama. Asrama yang terletak di dalam lingkungan sekolah. Bisa dibilang, lima menit jalan kaki nyampe.

Kuliah, saya anak kosan. Kosan yang saya pilih, sengaja saya ambil yang dekat dengan kampus saja agar tidak ada uang yang keluar untuk biaya transportasi. Ya, tapi kadang kala ketika mendesak tetap saja ada receh yang keluar. Masih tetap sama, saya gemar berjalan kaki. Kita bisa mengeksplore lebih berbagai hal, menyusuri beberapa jalan yang hanya bisa dilewati pejalan kaki (sambil memetik buah misalnya), mengamati berbagai makhluk hidup termasuk pejalan kaki lainnya, serta menjadi ajang untuk merancang masa depan. Seringkali saya berkontemplasi dengan pikiran, ketika berjalan sendirian. Kalau berdua, bertiga dan lebih, seringkali berhalu ria hahaha.

Cukup sekian cerita saya kali ini. Semoga dapat memacu semangat berjalan kaki sobatkus sekalian.

30 Comments

Mari berkomentar dengan sopan, harap memberikan komentar sesuai postingan, dan mohon maaf dilarang menaruh link aktif, dsb. Terima kasih :)

  1. Dulu waktu kecil aku sekolah SD juga jalan kaki, tapi paling hanya 10 menit saja sih, soalnya agak dekat sekolahnya.

    Pengalaman saya paling berkesan waktu SD salah satunya ya banjir. Pokoknya kalo hujan deras saja, besoknya sekolah kebanjiran bahkan pernah dimuat di koran lokal. Bahkan sekolah saya dijuluki SDSB. SDSB itu aslinya julukan bagi sejenis judi legal dari pemerintah saat itu yaitu sumbangan sosial dermawan berhadiah, tapi SDSB sekolahku menjadi sekolah dasar sering banjir.๐Ÿ˜‚

    Kalo kepik, perasaan kalo pulang kampung sering aku lihat kalo disawah, yang sudah ngga ada itu kunang kunang, sudah musnah.๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Deket ya sekolahnya kalo 10 menitan. Mungkin kalo bel sekolah bunyi, kedengeran tuh dari rumah hehe

      Tuhkan sama, banjir ini melanda di berbagai daerah. Malah tempatnya kak Agus dimuat ke koran, mau bangga kok yo kenapa bangga sekolah banjir haha

      Gak musnah kak, kunang-kunang sekarang menjadi langka๐Ÿ˜‚

      Delete
  2. Mirip ini. Tapi untungnya jarak dari rumah saya sampai ke SD dulu paling cuma 15 menitan. Jadi nggak jauh-jauh banget (Dulu tapi, kalau sekarang suruh jalan ke warung deket rumah aja rasanya males. Mending pakai motor. Hahaha)

    Kalau sekarang kayaknya udah nggak ada sih anak SD jalan, disekitar rumahku aja yang notabene masih desa, mereka udah antar jemput semua.

    Kalau saya misal pas hujan, biasanya sepatu dicopot. Jadi pas berangkat apa pulang, nyeker. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampunn segitu magernya kak jalan kaki, ntah sih apakah ada hubungannya antara umur dan tingkat kemageran. Jadi, ketika umur meningkat maka rasa mager berbanding lurus, alis ikut makin mager. Haha.

      Sama, disini juga udah jarang yang jalan kaki. Rata-rata udah pada dijemput.

      Nyeker memang suatu kenikmatan ๐Ÿ˜‚

      Delete
  3. Dulu aku juga suka bgt jalan kaki. Pas SD berangkat ke sekolah jg jalan kaki. SMP juga dr pondok ke sekolah jalan kaki. Tp semenjak SMA smpe sekarang kemana2 naik motor. Jarang bgt jalan kaki, baca ceritamu yg smpe banjir segela jd pengin jalan kaki sambil bersyukur aku blm merasakan banjir. Wkwk. Ampun. Yg pntg skrg udh nggak kena banjir2 lg yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwk iya nih tos dulu kita yang dulunya hobi jalan kaki...

      Emot yang katanya tos๐Ÿ™Œ๐Ÿ™

      Wah, jalanlah mba. Sambil bersyukur blum perna merasakan banjir, enggak kayak saya udah pernah berenang pas banjir malah๐Ÿคฃ

      Delete
  4. Saya juga waktu SD dan SMP selalu jalan kaki, karena jaraknya nggak begitu jauh dari rumah mba :D jadi selalu berangkat dan pulang jalan kaki bersama teman-teman lainnya (saling menjemput sebelum berangkat sekolah biasanya) ehehehehe.

    Namun saat SMA sudah nggak bisa jalan kaki karena jarak SMA-nya lumayan jauh jadi saya naik kendaraan umum setiap harinya dan budaya jalan kaki pun menghilang dari hidup saya setelahnya :")))) semakin tua semakin malas jalan di jalan raya dan lebih memilih jalan kalau nggak di dalam mall (biar dingin), atau jalan di dalam hutan (dengan alasan yang nggak jauh beda) hihihi ~

    Alhasil sekarang saya jalan kaki kalau ada momen khusus saja seperti sedang trip atau sejenisnya. Selain itu sudah jarang sekali dan jadi merindukan kegiatan jalan kaki sewaktu kecil. Dulu rasanya happy jalan kaki berangkat sekolah sambil jemput teman-teman terus kami bertukar cerita meski cerita yang ditukar nggak jauh dari urusan mainan :)))))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duhh jadi kangen masa-masa sekolah dulu. Iya kami juga saling tunggu-tungguan, siapa rumahnya yang paling ujung itu dia harus jemput ke arah depan, dia yang duluan. Tapi, juga yang paling ujung dia yang malah paling lambat ๐Ÿคฃ

      Huh jarak, kalo jauh ya capek juga sih mba jalan kakinya. Mungkin itu alasannya. Terus, belom lagi kepanasan, belom lagi kalo pagi takut telat. Banyaklah alasannya kalo jarak ke sekolah jauh. Sama, saya juga makin nambah U, nambah mager aja. Tapi, tetap masih sih dikit2 jalan ke luar wkwk

      Iya happy banget rasanya, apalagi kalo sempat ada lagu-lagu yang lagi hits. Auto sepanjang jalan lagu itu dinyanyiin berulang-ulang haha

      Delete
  5. Jadi keinget saat sekolah dulu.
    Saya pun mirip kayak kamu Kak, karena tinggal di pesisir, jadi sering terkena banjir air pasang.
    Saat sekolah SD, sering pake celana pendek aja ke sekolah, karena airnya selutut lebih. Saat sampe di sekolah baru deh pake celana panjang dan sepatu.

    Sedangkan saat SMP, kami dulu harus jalan kaki 2 km, karena jalannya yang berlumpur parah, setelah itu baru bersepeda 8 km lagi. Sekolah SMP terdekat saat itu emang jauh banget dari rumah.

    Kalo nginget saat-saat itu, rasanya dulu sekolah itu berat banget perjuangannya. Berangkat shubuh-shubuh dan pulangnya udah sore banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perjuangan kita sama kak, demi menimba ilmu perlu melewati terjalnya liku. Iya, kalo rumah saya yang di Riau itu emang deket dengan laut. Jadi, kalo musim ujan emang udah wanti-wanti bakal banjir.

      Wuihh jauh juga itu kak SMP nya, kalo ditotalin bisa nyampe 10 km ya. Sungguh luar biasa perjuangan ini๐Ÿ˜€

      Haha walau dirasa berat, tapi momennya itu lho. Pas kita ngerasain pada jaman itu senang-senang aja ya, setengah hari, waktu banyak dihabiskan di sekolah. Habis waktu di jalan sih. Tetap saja ini sebuah perjuangan yang patut untuk dikenang๐Ÿ˜„

      Delete
  6. Jaman sd dan smp jg saya jalan kaki ke sekolah, kalo sd sih ga terlalu jauh, tpi kalo smp lumayan jauh juga, sekitar 30 menit baru sampe sekolah, tapi berhubung rame"bareng temen ya ga kerasa, padahal mah badan udah keringetan juga:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih kalo rame-rame mah emang gak kerasa ya capeknya. Banyak waktu berhahahihi ๐Ÿ˜‚

      Delete
  7. Jadi ingat waktu dulu tempat saya juga sering kebanjiran, tapi semenjak pindah udah gk ngerasain banjir lagi. Tapi biasanya momen kya gini waktu kecil paling senang karena bisa bermain air wkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh kak sama ni, saya juga semenjak pindah gak lagi merasakan yang namanya banjir.

      Kalo pas banjir tuh, kalo kata orang musibah ya, tapi kalo kata anak kecil itu berkah. Kita bisa maen-maen air haha

      Delete
  8. Saya jadi keingetan dulu pas SD, sekolah saya jauh-jauh semua, hanya waktu SD masih bisa jalan kaki tapi rame-rame. Jadi temen sekolah yang rumahnya deketan di jemput satu-satu. Ternyata banyak juga sih satu rombongan, jadinya sekitar 10 orang. Saat itu perjalanannya lumayan horror. Kenapa? Bukan, bukan karena lewat hutan ato kuburan. Tapi kami harus menyebrangi 3 kali jalan besar (utk ukuran anak2) yang banyak lalu lintas kendaraannya, sementara gak ada orang dewasa yang mendampingi. (mana ada pak polisi yang mengatur lalu lintas saat itu disana) Meskipun pas pulang sekolah mainnya yah tetep ke hutan, loncat2 diatas prasasti kuburan raja2 ato ke kebun orang ๐Ÿ˜‚. Emang pada masa itu gak ada takut2nya, yang penting bisa main bareng temen-temen, hati seneng, udahlah cukup rasanya ๐Ÿ˜‚.

    Seinget saya dulu, jarang kebanjiran disini, kalopun banjir kami pasti naek gerobak, bapak saya yang ndorong, trus dianter sampe ke daerah yang kering.

    Walo di musim kemarau, tetep aja kalo pulang sekolah pada nyeker semua, sepatu di tenteng ato dibungkus kantong kresek trus di simpen di dalem tas, di hari yang panas bayangkanlah gimana kami lari-lari di aspal bertelanjang kaki rame-rame, terus mampir ke rumah temen-temen yang udah nyampe duluan buat sekedar numpang minum. ๐Ÿ˜‚

    SD itu salah satu masa terindah kalo buat saya, apalagi kalo soal petualangannya ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini mah kisah anak desa banget atuh, loncat-loncat lah, manjat-manjatlah ya mba ๐Ÿ˜‚

      Saya juga dulu pas kecil, gak tau kenapa rasanya gak ada beban hidup, di pikiran tuh cuman ya maen dan maenn terus. Sekarang udah gede, waduh kayaknya kekurangan waktu untuk sekadar maen (refreshing bersama temen). Kadang saya suka marah sama adek saya, maen ke luar rumah sampe sore, eh keinget diri sendiri sih dulu juga gitu. Jadi dimaklumin, emang kalo anak kecil pikirannya ya maen itu aja.

      Duh bapak memang kalo urusan nganterin anaknya terdepan ya mba hihi. Sama bapak saya juga gitu, dari saya SD sampe SMA kalo ada apa-apa ya bapak yang duluan turun ke jalan ๐Ÿ˜ƒ

      Emang bener, masa-masa pas SD emang masa yang paling berkenang. Dulu juga gitu mbak saya nyeker, kayaknya emang nikmat banget gitu nginjak aspalnya๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ

      Delete
  9. Ya Allah,,, hahahah
    aku inget banget sama kumbang itu. Sbnernya nggak banget sih, tapi sama itu kumbang jadi salah satu kenangan manis semasa kecil #ceillah..
    dulu waktu SD sering banget main ke sawah, yang masih ada semak-semaknya buat nyariin itu kumbang. Karena warnanya emas, dan bagus kalau dilihat walaupun bau ee'nya.. heheh
    tapi sekarang udah nggak ada kali yah, Di kota tempat saya tinggal hampir semuanya udah jadi perumahan.. :'( kinda sad tough

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah lho, gak tau kenapa kumbang itu membekas diingatan. Kayak ada kenangan manisnya gitu ea.

      Sepertinya kita sewaktu kecil emanglah anak desa ya, main-main nyari kumbang haha

      Lama kelamaan di desa juga mulai berkembang seperti kota. Mulai di bangun ini dan itu, semoga pembangunan yang dilakukan di desa tetap sesuai porsinya. Tanpa menghilangkan ekosistem khas di desa yah๐Ÿ˜Š

      Delete
  10. Jalan kaki ke sekolah...? apah..? Gayanya. Padahal hehehe, saya dulu jalan kaki juga mba, rame-rame sama temen. Seru malah sambil bercerita sama rombongan. Nnati ketemu karet gelang dipungut, ketemu bungkus permen dipungut. Zamans aya maenan kami ya karet gelang, bungkus permen jadi duit-duitan hahahaha. Salam mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwk jalan kaki rame-rame memanglah seru mbak. Saya juga paling suka sama momen jalan kaki bareng temen. Kadang rebutan siapa liat duluan, kalo nemu duit seribu di jalan๐Ÿ˜‚

      Delete
  11. Ini olahraga favorit aku. Jalan kaki. Aku juga jalan kaki selama sd - smp. Pantes di masa-masa itu kayagnya ga pernah depresi hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya mungkin itu alasan kenapa anak kecil bawaannya nyantai mulu, kayak nggak ada beban hidup. Mungkin karena berjalan kaki ya, bisa mengurangi depresi haha

      Delete
  12. Masyaallah nikmat sekali mba hidup dibesarkan bersama alam. Akupun hidup diperkampungan jauh dr hiruk pikuk kota, masih bisa merasakan gemericik air sungai dan pegunungan. Luar biasa masa kecil yg sangat berharga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah mba, dibesarkan bersama alam. Masa kecil dulu duh kalo diingat-ingat pengenlah main-main lagi haha

      Delete
  13. Sd sampe kuliah juga keseringan jalan kaki wkwk. Biar hemat.

    Sd: pengalaman jalan kaki terdekat dibandingkan jenjang persekolahan lainnya. Cause deket rumah wkwk. Kalo kata tmnku. Jam istirahat bs langsung balik, makan, balik lagi ke sekolah.

    Smp: pengalaman jalan yg cukup jauh. Mulai suka menjelajah pas kerkel di t4 tmn. Lewati hutan, tanah luas sampe danau hihi. Pernah Jalan kaki 4,5 km karena macet, biasanya naik angkot buat pulang ๐Ÿ˜….

    Sma: always jalan kaki dr lorong sekolah ke jalan raya karena jarang banget angkot masuk lorongnya. Lumayan kalo gak kebiasa jalan, keram wkwk. Jaraknya hampir 1 km. Dan kalo macet.. jangan ditanya.. jalan dr sekolah ke rumah mungkin >5 km ๐Ÿ˜….

    Kuliah: pp sih.. ya kali jalan dr plg ke indralaya ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Tp klo nginep t4 tmn. Enakan jalan kalo lg gak buru2. Hemat.

    Sekian.. maaf ya jd curhat hh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah jadi sejarahnya ini, dari mulanya SD jalan kaki yang paling dikit hingga kuliah kalo jalan kaki mungkin jadi yang terjauh yah๐Ÿคฃ

      Ya kali jalan kaki sepanjang +-30km dari layo ke plg. Naek mobil bae 1 jam haha

      Delete
  14. .... Sekolah pertama saya berada di Provinsi Riau, tepatnya di kabupaten Indragiri Hilir. Sekolah kedua saya berada di Jambi, Kerinci. Kemudian, sekolah ketiga saya berada di Sumatera Selatan, Musi Banyuasin....

    Lha, aku SD sampe SMA di Palembang semua wkkwk.
    Baru ketika kuliah di luar kota, alias... Indralaya haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow Indralaya menjadi tempat pertama kak dodo ke luar kota ya untuk menimba ilmu๐Ÿ˜‚

      Delete
  15. Jadi ingat pas momen kakak di Layo dulu. Sengaja jual motor lebih cepat, agar salah satunya bisa jalan kaki. Jalan kaki sekaligus diet. Alhasil, lumayan bekerja. Badan agak mendingan. Tapi pas Covid-19 menyerang, badan jadi gendutan lagi :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cita-cita diet dengan berjalan kaki ya kak๐Ÿ˜‚

      Sekarang gimana kabarnya? Melar pastinya wkwkk

      Delete

Post a Comment

Mari berkomentar dengan sopan, harap memberikan komentar sesuai postingan, dan mohon maaf dilarang menaruh link aktif, dsb. Terima kasih :)

Previous Post Next Post