Pemburu Sertifikat (Insaf)

Khairunnas anfa'uhum linnas (Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya.)

Saya dulu bukanlah sang organisator, hanya seorang siswa SMA yang kerjaannya belajar-belajar dan terus belajar. Kalau kata orang study oriented, di sekolah belajar, pulang sekolah pun belajar. Hari-hari saya hanya soal kompetisi di kelas, atau berkompetisi di ajang lomba-lomba. Semacam manusia pemburu sertifikat. Itulah saya dulu.

Saya pernah mencicipi lingkaran kelompok Rohani Islam (Rohis), hanya sebatas anggota itu pun banyak bolosnya. "Maaf miss ijin ada tugas kelompok" Yup alasan demi alasan saya lontarkan. Beruntungnya setiap hari Jumat saya tidak pernah bolos hadir untuk pengajian rutin (bersyukur).

Saya pernah menjadi bagian dari Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), hanya sebatas ambisi semata untuk mengejar lomba. Mungkin organisasi yang saya serius ikut berpartisipasi semasa SMA hanya ini. Terlepas dari alasan ingin menang lomba, KIR mengajarkan saya arti perjuangan. Saat tiba waktunya mepet deadline, saya pernah tidak tidur semalaman di dalam lab. Pernah berjuang menuntaskan 100 lembar karya tulis ilmiah. Pernah revisi berulang kali. Pernah bolak-balik observasi lapangan. Dan banyak hal lainnya. 

Saya pernah menjadi anak muda yang mencintai alam. Mungkin kamu tidak asing dengan ungkapan ini, "Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia." Kalimat yang ada pada Dasa Dharma Pramuka ke-2. Iya saya pernah menjadi bagian dari anak Pramuka, lebih tepatnya Pramuka yang berporos pada Saka Wanabakti. Lagi-lagi, saya masih mencintai belajar ketimbang berlelah-lelahan di hutan. Ya walaupun saya senang menjelajah, tetap saja porsi otak saya masih didominasi dengan akademik.

OSIS ? Katanya dengan masuk ke organisasi ini kamu bisa dianggap keren. Saya pernah coba di tahun pertama di SMA, hasilnya saya ditolak. Tahun kedua? Ada keinginan coba lagi, hanya saja saya lebih memilih terbang berkompetisi di kota seberang daripada hadir untuk menuntaskan wawancara oprec. Ya, lagi-lagi saya sangat ambisius mengejar sertifikat.

Jangan tanya sertifikat semasa SMA saya ada berapa, bahkan sekadar menjadi panitia kurban saja saya ada sertifikatnya. Itupun sebagai panitia yang bantu nyemangatin. Dasar aku yang dulu.

Dulu pernah ada yang namanya seleksi Siswa Berprestasi, semakin banyak sertifikat yang kamu punya maka semakin tinggi nilai yang kamu peroleh. Demi menaikkan nilai untuk seleksi tersebut, sekolah saya menginstruksikan untuk membuat sertifikat di setiap agenda yang saya ikuti. Jelas saja, saya tulis semuanya hahaha

Semasa SMP saya punya seorang teman dengan misi yang sama yakni berjuang mendapatkan sertifikat sebanyak-banyaknya. Entah apa motivasi yang mendorong kami berdua, kami selalu berlomba-lomba saling menumpuk sertifikat. "Reski, sekarang udah berapa sertifikatnya?" tanya sohib saya tersebut. "Baru lima belas" jawab saya jujur.

Perihal juara kelas? Kami hanya bertemu di kelas 7.1 (1 SMP), saya lupa rangking berapa kami waktu itu. Selebihnya kami dua tahun tidak pernah sekelas, hingga menjadikan kami sama-sama berjuang menyabet sertifikat di kelas masing-masing. Ada ya pertemanan semacam ini? Wkwk saya bahkan tak menyadari ini sewaktu dulu.

Saya pernah berpikir, mungkin hobi saya yang menumpuk sertifikat ini karena salah satunya dilatarbelakangi oleh bentuk desain. Yup, desain sertifikat dengan warna dan gayanya yang berbeda-beda.

Hal ini saya sadari ketika ada salah satu ayuk kelas yang sedang sibuk membereskan sertifikat. Ayuk itu kakak perempuan ya artinya hehe.

Ketika sedang membereskan sertifikat di tengah-tengah ruang asrama, saya yang melintas seketika berhenti melihat desain sertifikat dengan warna keemasan. Mentang-mentang cewek matanya kemana-mana kalo melihat kilauan *eh. Keren sekali, gumam hati kecil saya. Pertama kali melihat sertifikat, saya tertuju pada gayanya. Kedua, baru saya melihat isi dari sertifikat tersebut. Ketiga, iseng nanya-nanya. Hehe adik kelas yang SKSD sekali ya.

Tahun demi tahun bergulir, penerimaan mahasiswa baru mulai dibuka oleh sebagian perguruan tinggi baik universitas swasta maupun negeri, hingga politeknik dan sekolah vokasi. Saya tetap pada satu tujuan, tembus perguruan tinggi negeri tanpa tes. Dengan berbekal sertifikat, nilai rapor yang wow, serta nilai UN yang nyaris sangat bagus (gak boleh nyebut sempurna hehe), saya mendaftarkan diri. Mudah saja, pertama lolos penjaringan kuota di sekolah, kedua lolos penjaringan kuota PTN yang dituju.

Sekolah 12 tahun ditutup dengan manis sekali. Lulus dan dapat undangan. Bukan undangan makan gratis :'(

Tulisan ini begitu sombong ya? Mohon maaf mari baca dulu hingga akhir.

Saya sebenarnya ingin membidik PTN di Pulau Jawa, tapi sayang tak mendapatkan ridho dari orang tua. Saya mengurungkan niat tersebut. Tetap saja saya harus bersyukur lulus melalui jalur undangan di PTN yang sekarang sedang saya tempuh. Memulai babak baru di dunia perkuliahan tak lantas mengubah karakter diri saya yang ambisius.

Bayangkan, saya pernah mengajak seorang teman sejurusan untuk mengikuti lomba menulis KTI padahal kami belum pernah bertemu serta kami belum resmi menjadi mahasiswa baru. Aneh memang. Pemburu sertifikat masih mengalir di aliran darah saya. Pelan-pelan saya mencoba berbagai peluang yang ada. Bahkan sempat mengoleksi beberapa sertifikat seminar berlabel gratis hingga berbayar.

Tulisannya dah panjang, gua ngantuk.  Maklum waktu luang untuk nulis hanya malam. Okey nanti besok diedit ulang biar bagus dan enak dibaca🤣

Satu kejadian yang sontak membuat saya berhenti menjadi pemburu sertifikat. Nilai saya jatuh di semester ketiga. Panen nilai B dan C. Perlahan saya merasa malas untuk berlomba, hingga malas untuk berorganisasi. Nilai saya jatuh, untuk apa aktif berorganisasi dan ambis berlomba ria?

Saya di kampus akhirnya sadar, ingin lebih aktif di beberapa organisasi. Nanti ada tulisan terpisah mengenai perjalanan organisasi saya, tunggu aja entah kapan haha.

Kejadian di semester tiga pun menghantarkan saya pada kegagalan untuk mencapai impian sang guru sekaligus ibu asrama saya sewaktu SMA dulu. Beliau pernah berkata, "Hai sisber, keren lho siswa berprestasi. Nanti lanjut jadi maber ya reski, mahasiswa berprestasi!" ujar guru saya dengan nada semangat.

"Nilai saya jatuh." Hanya itu terus yang saya ucapkan berkali-kali.

Suatu waktu saya tersadar. Selama ini tujuan kamu menumpuk sertifikat itu untuk apa? Agar terlihat keren? Agar dikatakan berprestasi? Agar apa?

Tujuan saya salah. Niat saya salah. Terlalu sempit bagi kita yang memaknai prestasi hanya sebatas kalimat yang tertulis di kertas. Prestasi lebih dari itu. Saya sadar melalui proses yang panjang banyak hal yang telah saya lewati. Saya telah melewati kisah Putih Abu-abu tanpa drama ala Dilan dan Milea. Saya bahkan sangat berfokus pada tujuan saya.

========
Pesan dari saya versi dewasa untuk diri saya yang masih bocil.

Kamu hebat nak. Susah sekali melewati masa-masa dimana gejolak asmaramu sedang menggelegak. Di saat yang lain melewati masa dengan merah jambu, kamu malah berfokus bagaimana rapormu tak berwarna merah. Bukan, bukan kamu tak normal. Kamu pandai mengalihkan rasa sukamu pada hal yang lebih produktif.

Di saat orang lain dengan mudahnya meminta uang untuk membeli handphone baru, kamu malah asik berlomba untuk menambah tabungan untuk membeli apa yang kamu inginkan.

Di saat orang lain selalu update dengan peralatan tata rias terbaru, kamu malah asik membongkar gudang untuk mencari bank-bank soal lama bekas kakak kelasmu.

Di saat orang lain yang menghibur diri dengan berbagai koleksi anime dan kpop, kamu malah asik menghibur diri di sudut ruangan berisikan buku. Ya, walaupun sesekali pernah kulihat kamu nimbrung bersama temanmu bercanda ria.

Nak, kamu hebat. 

Walau niatmu salah nak, perlahan kamu harus belajar bagaimana menjadikan setiap tujuanmu itu bermanfaat bagi orang lain.

Kamu harus belajar, bagaimana caranya agar ilmu yang sudah kamu peroleh tidak berhenti pada dirimu saja. Kamu hebat. Seperti petikan pada paragraf pertama, Khairunnas anfa'uhum linnas, Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya. Jadilah yang bermanfaat nak. Tidak ada artinya sertifikat yang bertumpuk, jika tidak diiringi dengan kebermanfaatan yang timbul olehnya.

Semangat atuh :)

Update terbaru, kepo lebih lanjut!:

4 Responses to "Pemburu Sertifikat (Insaf)"

  1. Mungkin sertifikat saya gak sebanyak mba reskia, tapi dulu saya dan temen-temen pernah juga menjadi pemburu sertifikat walo hanya sebentar.

    Karena saat itulah justru baru sadar, kalo hal itu sangat bermanfaat suatu saat nanti ketika kita mengajukan CV waktu ngelamar pekerjaan �� karena banyak juga yang menitikberatkan pelamar yang banyak pengalaman seperti itu, biar lebih tanggap menghadapi segala situasi.

    Ayok mba, tambahin lagi koleksi sertifikatnya, tapi kegiatannya lakukan lebih lama dan di perdalam, mumpung masih ada waktu dan kesempatan, semangat.

    Jangan khawatir mba, suatu saat pengalamannya bakal bermanfaat untuk orang banyak, tapi waktunya mungkin blum sekarang, karena gak ada satupun yang di ciptakan Allah, melainkan untuk kebermanfaatan mahluknya itu sendiri. ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheh iya juga sih mba, sertifikat bisa dilampirkan di dalam CV. Hanya saja mungkin proses yang dilewati harus tulus, eh emang selama ini gak tulus wkwkk

      InsyaAllah, mau ngepush koleksi lagi hahaa. Insaf ini dalam artian saya sadar kadang saya egois, hanya memupuk untuk diri sendiri. Coba dibagi-bagi gitu, bukan ngebagiin sertifikatnya tapi ngebagiin ilmunya😅

      Semoga bisa bermanfaat ya mba :)

      Delete
  2. Kayaknya udah dari jaman semester 1 saya ngedown akademik gara-gara Kalkulus nilai D. Ahahaha. Ada niat yang belok juga tentu di dalamnya

    Saya juga suka ngumpulin sertifikat sih hahaha. Tapi lama kelamaan bosen juga, gak pernah rapi nyimpennya. Kecuali yang bener-bener langka atau berkesan, disimpen baik-baik pasti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahah kalo saya mah dapet D auto jadi kupu-kupu. Kerjaannya kuliah-pulang dan kuliah-pulang. Nyesek abis dapet D, IPK serasa terjun bebas.

      Dari banyaknya sertifikat tentu pasti ada yang paling berkesan :)

      Delete

Mari berkomentar dengan sopan, harap memberikan komentar sesuai postingan, dan mohon maaf dilarang menaruh link aktif, dsb. Terima kasih :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel