Bingung: Edisi Curhat

Animasi bingung
Bingung

Saya bingung, bukan bingung memilih antara teh kotak atau teh botol. Bukan juga bingung antara bubur kacang ijo atau bubur kacang merah *emang ada?

Bukan juga bingung karena memilih mau S2 dulu atau menikah dulu, macem iklan.

Saya dideru oleh kebingungan yang ada di kepala saya. Bingung terhadap pilihan yang pernah saya pilih. Sebenarnya kamu ini kenapa sih kik? Mungkin begitu kepala saya bertanya. Bahkan saya bingung yang bertanya itu kepala atau hati kecil saya. Kebingungan ini kembali muncul, kala LPJ mulai meminta untuk disetorkan. Yup, Laporan Pertanggungjawaban suatu organisasi yang saya ikuti.

LPJ setengah jalan (6 bulan) ini dipinta koreksiannya oleh kepala departemen saya. Hati saya masih setengah nampaknya, menjadi sekretaris departemen yang saya naungi ini. Saya masih nyaman menjadi penumpang yang duduk di belakang saja, santai, dan bisa melihat pemandangan tanpa takut menabrak sesuatu sebab saya bukan sopir. Akan tetapi, menjadi seseorang yang duduk di belakang bukan berarti ia tidak memiliki peran untuk memperingatkan bahaya yang ada di depan mata.

Dulu, saya ingat betul betapa menggebu-gebunya semangat  saya menjadi seorang anggota suatu organisasi. Agenda ini ikut, agenda itu ikut. Yup, hingga saya terjaring yang namanya seleksi alam. Saya mulai menyeleksi beberapa bidang yang saya minati. Akhirnya saya berfokus pada bidang media dan desain. Hingga berjalannya waktu, beberapa senior saya mulai menaruh kepercayaan kepada saya, orang yang bermodalkan semangat.

"Dek jadi PJ Pubdok (publikasi dan dokumentasi) ya, PJ desain ya, PJ ini ini..." Pokoknya kata senior saya, jadi penanggungjawab kegiatan yang berbau desain.

Saya memang sudah 'agak' kenal lama dengan dunia desain, tepatnya saat saya masih duduk di bangku SMA. Kala itu, suatu lomba memaksa saya untuk bisa mendesain. Lomba menulis Karya Ilmiah yang butuh poster untuk mempresentasikannya. Bermodal nekat dan semangat, serta tanya-tanya ke yang ahli saya mulai belajar desain. Saya berkenalan dengan aplikasi yang bernama corel draw. Waktu itu saya belum tau kalau di youtube banyak bertebaran tutorial cara mendesain, bahkan di salah satu website ada yang menyediakan template poster dengan cuma-cuma. Oleh karena saya belum tau apa-apa, mangkanya saya belajar semuanya dari dasar. Skill desain saya hanya mentok saat pembutan poster itu saja, selebihnya saya tidak melanjutkannya lagi.

Hingga pada suatu titik, saya diberikan beberapa amanah sebagai pengurus di beberapa organisasi yang saya ikuti. Tak banyak, tapi cukup menguras pikiran. Saya tidak mengerti, kenapa senior-senior saya begitu percaya dengan orang yang katakanlah hanya bermodalkan ilmu ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Atau bisa dikatakan orang yang masih banyak kurangnya ini. Saya menarik sebuah kesimpulan, bidang desain ini mencari orang yang mau dan bisa. Banyak yang mungkin mau menjadi pengurus di bidang desain, tetapi terbatas karena tidak bisa mendesain. Bahkan ada yang bisa mendesain, tetapi tidak mau menjadi pengurus.

Waktu itu saya pernah berada diambang kegalauan, bertanya-tanya di dalam pikiran 'ambil enggak ya ini amanah?'

Kebingungan tersebut tersumbat di pikiran saya. Agar sedikit terbuka, saya meminta saran kepada teman saya.

"Gimana ya, menurutmu kira-kira diambil enggak amanah ini?" Tanya saya yang waktu itu masih berstatus sebagai pengurus departemen media di dua organisasi.

"Kamu kalau ambil, jadinya rangkap tiga jabatan" sebut teman saya.

"Ketika kita menolong agama Allah maka Allah akan menolong kita kik" sambung teman saya dengan menjelaskan makna dari salah satu ayat Al-Quran yakni Surah Muhammad ayat 7.

Bingung menderu saya. Sebelumnya, saya tidak ada niatan untuk lanjut sebagai pengurus di organisasi saya yang ketiga ini. Ketika ada pendaftaran Badan Pengurus Harian, jelas saja saya tidak mendaftar walaupun jika melihat peluang pasti saya yang dipilih karena sebelumnya saya sudah menjadi staff ahli. Hingga tak ada satupun yang berniat maju sebagai pengurus, alhasil sang ketua turun tangan meminta kesediaan masing-masing dari kami yang dulunya pernah menjadi staff ahli. Saya paparkan kepada beliau, bahwa saat itu sudah ada dua organisasi yang saya emban.

Saya sebenarnya ada rasa sungkan, sebab amanah yang di organisasi ketiga ini bukan skala fakultas lagi ataupun universitas tetapi sudah memasuki ranah regional.

Bahkan yang menjadi saya merasa tidak pantas, karena amanah ini berkecimpung di dunia dakwah ilmiah. Cukup menjadi tamparan bagi saya, ketika kami si pengurus harus menjadi role model kader dakwah untuk teman-teman di kampus kami masing-masing. Memang tidak ada peraturan tertulis, tetapi secara tidak sadar pasti orang-orang akan merujuk pada kami yang notabenenya pengurus tingkat regional.

Kembali pada LPJ tadi, hampir sepenuhnya diselesaikan oleh kadep saya. Sedangkan, saya hanya sedikit membantu pada rekapan hasil publikasi di medsos. Padahal, jika melihat pembagian ranah kerja, bagian catat mencatat itu kerjaannya sekretaris. Bagian susun ini dan itu, sekretaris. Entahlah angin mana yang singgah ke diri saya ini, saya merasa ingin berhenti untuk berkecimpung di dunia organisasi. Saya bahkan malas untuk membuka si ijo corel lagi. Malas membalas personal chat dari si kadep, bahkan si ketua juga.

Aish tulisan ini pun bingung arahnya kemana. Bingung mengakhirinya dengan pas. Jika di tutup sebatas ini, rasanya masih banyak kalimat yang menggantung. Oke baiklah, biarkanlah pembaca menjadi bingung!

8 Comments

Mari berkomentar dengan sopan, harap memberikan komentar sesuai postingan, dan mohon maaf dilarang menaruh link aktif, dsb. Terima kasih :)

  1. Biasanya seseorang kalah udah tepercaya di bidang bagian desain, sering banget bakal di tempatin di situ. Sampe akhirnya kadang suka nanya juga ke mereka "bosen nggak sih desainan mulu?"

    Ayo semangat. Dibales chat kadep/ketuanya. Kasian nanti mereka banyak su'udzon ๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia, saya juga ini kena jebak. Dijebak di jalan yang baik tentunya. Senior saya malah ada yang nyampe 4/5 rangkap amanah. Malah di organisasi yang gede-gede macam BEM. Sebenarnya jika dipikir2 lagi, ada yang lebih merintih yakni si ketua. Bayangin kalo kader/pengurusnya itu semuanya kayak saya, hadeh.

      Nampaknya butuh penyegaran dulu. Ini berusaha kembali membangun komunikasi, dssar aku๐Ÿคฃ

      Delete
  2. Hihi saya pernah ngalamin kayak gini juga. Awal2 bikin poster aja jelek banget, tapi ga tau kenapa malah sering diamanahi kerjaan pubdekdok. Jadinya malah belajar otodidak, desain makin bagus, dan amanah terus bertambah, sekarang jadi koor/pj/pemred. Dan nyampe situasi bosen kayak gini, karena mungkin amanah tadi bukan saya ambil karena keinginan, tapi karena ditawari, masalahnya saya yes man, ga bisa nolak. Mungkin hal kayak gini lumrah, dan baiknya diomongin secara personal dulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya malah mau ketawa ngingat hasil poster pas awal-awal mmasa belajar, betapa kakunya poster saya๐Ÿ˜‚

      Kemungkinan ini lagi berada di kurva yang terbawah yah, udah bosen gitu butuh refreshing dulu. Yup, ini berusaha untuk diomongin secara personal. Terima kasih kak sudah berbagi ceritanya, memang lumrah sih dasar saya aja yang lagi mood swing๐Ÿ˜‚

      Delete
  3. Saya tidak bisa kasih saran apakah akan ambil itu atau tidak, semua terserah mbak kuskus.

    Cuma memang jadi pengurus itu ada tanggung jawab yang lumayan berat, apalagi sampai jadi role mode dakwah bagi anggotanya.

    Karena itu sampai sekarang kalo ada organisasi saya selalu jadi anggota saja, belum pernah jadi pengurus.๐Ÿ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, emang berat sih kak tanggung jawabnya. Semoga saya kuat ya hehe

      Delete
    2. Insya Allah mbak Kus kuat, kalo ngga kuat biar Dilan saja.๐Ÿ˜…

      Delete

Post a Comment

Mari berkomentar dengan sopan, harap memberikan komentar sesuai postingan, dan mohon maaf dilarang menaruh link aktif, dsb. Terima kasih :)

Previous Post Next Post