Cerita di Balik Sebuah Senyuman

Daftar Isi [Tampil]

"Menulis membuatku waras," ujar seseorang yang aku kenal.

Mungkin kita punya cara yang sama dalam mengendalikan kewarasan; menulis maksudku.

Hai, apa kabar? Rasanya berat sekali mengukir seutas senyum di wajah. Yah rasanya berat, seperti sudah terpotret datar.

Hari itu mamak menelponku via gawai yang super canggih ini. Video Call. Aku tak bisa menyembunyikan raut muka yang kusut di hadapannya, walaupun saya tersenyum dengan mode dua jari tetap saja insting seorang ibu kuat sekali.

"Nak kenapa kurusan?" tanya ibu.
Lanjutnya dengan bertanya hingga berkali-kali, "Tuhkan kurusan."

Ah kenapa aku gak pakek jilbab aja tadi, bisik batinku. Tapi, yang terucap "eh nggak mak, efek hp ini jadi tirusan gitu." Tetap saja, mana ada ibu yang langsung percayaan sama anaknya.

"Lho kamu jarang makan yah?" Akhirnya pertanyaan pamungkas disodorkan. Saya tetap tersenyum sambil meringis, "eheheh makan mak makanlah."

Hingga hari itu mamak berkata agar diriku jangan terlalu berhemat, belilah apa yang ingin dibeli. Makan yang banyak, dan petuah-petuah lainnya.

Emak memanglah begitu, ikatan batinnya dengan anak begitu canggih.

Pernah sekali saya sedang bosan-bosannya dengan teori kuliah, merasa gak pintar, merasa tugas bertumpuk di bahu, beban yang semakin berat hingga berujung pada bolos masuk kuliah. Kemudian, dering berbunyi mamak menelpon.

Tanpa video call, hanya calling saja. Hebatnya, dari suara dan cara saya menjawab emak langsung pandai menebak, "Kenapa kamu nak, banyak masalah yah di kampus?" seketika saya menangis sambil menahan suara.

Ntah ini kali keberapa saya harus tetap menahan segala beban di pundak saya, menahan segala masalah yang ada. Tho, sebentar lagi kuliah akan segera usai. Dan yah tidak hanya saya yang sedang memikul masalah, ada mereka-mereka juga dengan masalahnya tersendiri.

Begitulah hidup di perantauan, kamu harus kuat. Kuat menahan rasa. Ini baru sebagian kecil yang kamu rasa, masih banyak jalanan berliku lainnya. Stay strong yah cantik :)

Pertengahan Malam,
Maret 2020.

4 Comments

Mari berkomentar dengan sopan, harap memberikan komentar sesuai postingan, dan mohon maaf dilarang menaruh link aktif, dsb. Terima kasih :)

  1. Pengalaman pribadikah mbak? Ttep semangat yaa.. Naluri seorang ibu itu emang kadang lebih kuat dan signalnya memancar kemana" ngalahin wifi , jadi dia bisa tau keadaan kita walopun hnya lewat suara apalgi vicall..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasalah yah cewek ini sering curhat. Yak betul pengalaman pribadi itu mbak.

      Ibu...kangen emak aku hiks :(

      Delete
  2. Ceritanya berasa dan nyampe banget mba, tetap semangat ya mba 💜💜

    ReplyDelete

Post a Comment

Mari berkomentar dengan sopan, harap memberikan komentar sesuai postingan, dan mohon maaf dilarang menaruh link aktif, dsb. Terima kasih :)

Previous Post Next Post