[PUISI] Pencuri

Daftar isi [Tampil]
Baca juga:

Pencuri


Saya sudah salah mengenal tuan. Pun saya juga salah menaruh hati sembarangan.

Tuan tau tidak kalau rasa, tumbuh karena terbiasa?

Mungkin saya yang bodoh, belum mengenal tuan secara rinci. Tuan bukanlah pendekar yang baik hati. Melainkan pencuri. Pencuri hati saya.

Tuan tau tidak, kalau setiap bersapa dengan tuan saya akan meriang ? Tiba-tiba merasa panas dan dingin secara bersaman.

Saya tak bisa berpura-pura menjadi biasa. Dengan gilanya rasa ini terus tumbuh mekar nan subur.

Saya tau tuan itu dielu-elukan banyak orang. Tuan punya pesona tersendiri, betapa tidak banyak perempuan terkagum-kagum.

Tutur kata tuan sangat rapi. Jika tuan seorang penyair, maka saya akan mabuk cinta setiap harinya dengan kata-kata tuan.

Tapi, tuan tak mengerti bagaimana rasa itu setiap harinya menjadi candu. Sosok tuan rasanya ada dimana-mana. Rasanya hantu pun mengalah, karena tuan telah mengambil alih untuk bergentayangan di langit-langit kamar saya.

Tuan, tolong kembalikan hati saya. Saya tidak tahu, tuan sengaja atau tidaknya mengambil hati saya. Yang jelas, hati saya sudah hilang. Hanya bersisa bekas-bekasnya saja.

Kalau boleh tahu, sudah berapa hati yang tuan curi?

Palembang, 23 Februari 2020.

Dengarlah tepukan yang tak bersuara ini🙂

3 Komentar

Mari berkomentar dengan sopan, harap memberikan komentar sesuai postingan, dan mohon maaf dilarang menaruh link aktif, dsb. Terima kasih :)

  1. bagus.. suka juga baca puisinya hehe

    BalasHapus
  2. hehe saat orang kasmaran tapi dia seorang penyair. jadilah seperti ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi mending saya tulis saja yakan disini, daripada berlarian di kepala saya. Huh pusing :v

      Hapus

Posting Komentar

Mari berkomentar dengan sopan, harap memberikan komentar sesuai postingan, dan mohon maaf dilarang menaruh link aktif, dsb. Terima kasih :)

Lebih baru Lebih lama