Dewasa Bersama Tulisan


Pensil, Rautan, Buku Catatan, Kertas, Pendidikan
Menulis (pict by pixabay)

Bismillahirrahmanirrahim...

Mungkin kamu bertanya-tanya, kemana saja selama ini? Kok ga pernah nulis lagi? Udah bosen nulis ya? dan sederet pertanyaan lainnya berkenaan hiatusnya diriku dari dunia menulis.
Well, dunia teori dan teori merenggutku demi penambahan gelar diujung nama.
Aku lupa bagaimana nikmatnya menulis, bermesraan dengan kata. Ya aku lupa. Lupa.
Jujur, aku merasa kaku untuk memulai kembali setelah beberapa bulan tak menulis. Rasanya kalimat-kalimatku mulai tak harmonis. Ada apa gerangan? Ntahlah.

Kamu pasti menyadari bahwa tulisanku mulai tak seserius dulu (pede amat haha). Ya yaudahlah, semoga kembalinya aku ke dunia tulis menulis bisa mendewasakan diri.

Dewasa Bersama Tulisan


Lho kok headingnya jadi Dewasa Bersama Tulisan ? S E N G A J A. Sengaja digedein tulisannya, biar daku sadar harusnya menulis membuatku belajar menjadi lebih dewasa. Aku memang hobi menulis, cuit-cuit di media sosial, curhat dikit, ya nulis.

Aku kembali teringat akan diriku yang dulu, pertama kali bapak membelikan Hape. Hape seken harga dua ratus ribuan bapak beli dari temannya untukku. Aku rasa dibelikannya hape itu karena bapak tak mau aku terus-terusan meminjam hapenya hanya untuk bermain game bomberman. Itu lho game jadul yang hits pada jamannya hehe.

Pertama kali dibelikan hp itu ketika aku kelas empat SD. Hape buatan China yang ku sendiri tak tau merek apa, yang pastinya sejenis hp Nexi*n. Bapak memang orangnya agak gaul gitu, seneng banget sama hal-hal berbau teknologi canggih (smartphone). Beberapa kali gonta-ganti hp. Untung mamak orangnya pengertian, tidak pernah mengusik atau memarahi hobi bapak.

Singkat cerita, teman-temanku yang lainnya juga sudah punya hp. Kami sering berkirim pesan (read: SMS). Rata-rata temanku punya hp Noki* yang papan keyboardnya ada 9 itu lho haha. Seringkali berkirim pesan, berisi broadcast panjang syair-syair gitu, atau guyonan. Asiklah pokoknya. Jika kami ingin mengirim pesan gambar, dulu kami memakai menu MMS (kalo ga salah sih lupa). Sekali kirim MMS itu mengeluarkan biaya Rp 500 pulsa.

Tulisan-tulisan jadulku dulu juga dipengaruhi lingkungan dan tata kalimat yang hits pada saat itu.
Kayak gini nih misalnya:
  • Aq Sukha qmu
  • Aq Mo pErg! k3 T4 qm y
Dan mungkin masih banyak lagi. Jadi, dulu gaya penulisan yang hits dengan penggunaan q untuk huruf k, huruf yang kapital tidak pada tempatnya, penggunaan angka sebagai huruf, tanda baca yang pengganti huruf juga. Wah, kalo mengenang zaman itu kadang jadi ketawa-ketawa sendiri.

Aku juga dulu ketika SD senang sekali mengumpulkan karya sastra di Buku Khusus, berisi pantun, puisi, cerita lucu, biodata teman dll. Ya itu Reskia yang imut-imut.

Kemudian, Facebook menyerbu kami. Kami beramai-ramai mendaftarkan akun FB. Dari sinilah aku kadang sering menulis-nulis iseng hehe. Paling ya sepatah dua patah untuk mengekspresikan emosi diri. Jaman alay-alaynya kali dilihat dari jamanku mengetik artikel ini. Tapi, ketika dulu aku dan temanku melakoninya kami merasa enjoy saja tak pernah merasa alay atau lebay. Ya karena kami hanya ingin berkomunikasi.

Hingga, aku beranjak SMP dengan segala intrik cinta monyet menyapa. Mulailah tulisanku serasa bucin (budak micin) plesetan hehe. Ku akui SMP adalah jamannya penyair cinta bertebaran. Aku serasa paham betul akan aksara cinta. Sederet kata-kata cinta nan alay gaya anak SMP aku tulis di FB. Alangkah berbunga-bunganya ketika kata itu sampai pada si doi yang dituju. Bahkan sangking terlalu sering menulis kata cinta, aku pernah ditegur Guruku.

Jadi, ceritanya karena gara-gara tulisan seseorang yang hinggi kini aku tidak tau siapa namanya. Dia menuliskan perihal nama-nama yang berpacaran se-SMP, ditulisnya di kertas sobekan lalu dimasukan ke dalam kotak saran. Terkejut bukan main, namaku dipanggil ke kantor. Padahal namaku dan si nama cowok itu tidaklah benar berpacaran, aku tetap kena marah hingga merembet ke tulisanku di FB. "Reskia kamu mau nikah ya? Status kamu kok cinta-cintain begitu!" Tegur Pak Guru. Beberapa nasihat beliau berikan kepadaku untuk bijak menggunakan media sosial. Ah begitulah jaman cinta monyetku. Aku dan tulisanku mulai bertumbuh.

SMA hingga sekarang aku selalu belajar untuk terus menulis dan menulis.
Jika kau bukan anak Raja dan bukan anak Ulama Besar, maka menulislah.” (Imam Ghozali).
Benar kata Imam Ghozali, bahwa aku bukanlah anak raja dan juga bukan anak ulama besar. Jadi, aku harus menulis. Menulislah walau tertatih, sedikit demi sedikit biasakanlah menulis. Aku juga terkadang memiliki mood menulis bak rollercoster, naik turun, kadang semangat kadang kurang semangat.

Terima kasih, Tulisan-tulisanku. Aku belajar dewasa dengan menulis.
Semoga kedepannya tulisanku bisa lebih bermanfaat lagi~~

Oiya, sekarang link website Kuskus Pintar resmi bermigrasi dari web(dot)id ke domain (dot)com.
Domain baru ini adalah hadiah atas pencapaian diri karena sudah bertahan untuk terus senantiasa menulis. Semoga kedepannya kamu lebih semangat lagi ya Aku!

2020
Previous Post Next Post