[CONTOH CERPEN] Secarik Kertas

SECARIK KERTAS

anime cantik

 

Cinta mungkin membuat orang bisa tergila-gila dengannya. Cinta kata anak gaul adalah satu kata penuh makna. Hidup tanpa cinta bagaikan taman tak berbunga itu menurut sang pujangga. Kata pak Ustadz cinta itu sah-sah saja, tapi kalau pacaran haram hukumnya. Kata teman-temanku cinta itu identik dengan pacaran, kalo smsan dan bbman panggilannya yayang-yayangan, ayah-bunda, mama-papa, dan lain-lain. Kalau kata aku sih cinta itu hanya sekedar mengagumi dan menjadikannya motivasi, inspirasi, bukan dengan cara berpacaran yang seperti dikatakan oleh teman-temanku itu. Yap, aku memang mengagumi seseorang itupun tanpa diketahui oleh orang-orang yang berada disekelilingku.

“Kisah kasih di sekolah

Dengan si dia

Tiada kisah paling indah

Masa-masa di sekolah

Tiada kisah paling indah

Kisah kasih di sekolah”

Nyanyian itu begitu indah mengalun di telingaku, aku sungguh terlena dan terbuai dengan lagu tersebut. Lagu itu membuatku lupa diri, bahkan sahabatku yang sedari tadi berada disampingku hanya ku anggap seperti patung hidup.

“Nis, Nis, ANNISA.”, teriak sahabatku. Aku lantas terkejut mendengar suaranya yang bergeming ditelingaku. Rasanya telingaku bergetar tak karuan.
“Ada apa Del?”, sahutku kepadanya.
“Bosan aja ngeliatin loh senyum-senyum sambil dengerin lagu, sedangkan gue dicuekkin.”, ujarnya.
“Ya ampun Delia, gue kira apa, kalo hal itu mah seterah gue.”, kataku kepadanya.
Delia merupakan sahabatku dari SMP, sekarang aku dan sahabatku bersekolah di SMAN 1 Intan Mulia. Aku dan Delia berada di kelas yang sama yaitu di kelas XI.IPA 1.

***

Di istanaku yang sangat ku cintai, atau orang-orang sering menyebutnya dengan kamar. Kamar ku anggap bagaikan istana dan aku adalah Queen di kerajaan ku. Di istanaku atau kamarku semuanya dihiasi dengan warna biru, dari dindingnya, kasurku, meja belajarku, lemariku dan lain-lain. Saat ku melihat kearah meja belajarku, ada sebuah buku yang menarik minatku untuk membukanya. Buku itu adalah diariku, yang isinya berjuta pengalaman, curhatan, inspirasi, motivasi dan lain-lain. Namun, curhatanlah yang paling mendominasi buku diariku. Lembar demi lembar ku buka dan ku baca dengan perlahan. Mengingat masa lalu yang tertulis di diariku, membuat pikiranku terbawa ke masa itu.
Tepat tanggal 12 Juni 2011 merupakan hari pertamaku bersekolah di SMAN 1 Intan Mulia. Namun, sial melanda diriku, saat itu aku datang terlambat dan akhirnya aku diberi hukuman dari kakak kelasku. Dengan memakai baju SMP, kaos kaki yang salah, sepatu yang tidak sepasang, berkalungkan terasi, dan memakai topi koboi. Semua yang ku kenakan itu membuatku merasa risih. Hukuman yang diberikan kepadaku adalah menyapu dedaunan dipinggir lapangan sambil bernyanyi ala pedangdut. Sungguh aku sangat malu, hari pertama sekolah telah memberikan kesan menyedihkan kepadaku.
Keesokan harinya, aku berharap tidak akan terjadi apa-apa padaku. Dari pagi hingga istirahat siang tidak terjadi sesuatu denganku. Hari ini aku merasa beruntung. Namun, saat persiapan apel penutupan MOS (Masa Orientasi Siswa) aku ingin buang air kecil. Aku berlari seperti kucing yang dikejar oleh anjing. Aku sudah tak tahan lagi ingin segera menuntaskan hasratku ini.
“Brukk.”, aku menabrak laki-laki di depan pintu toilet.
“Au.”, rintihnya. Ia menatap wajahku dengan tajam.
“Maaf, maaf.”, ucapku padanya.
Ia segera pergi untuk mempersiapkan apel penutupan. Sebelum ia pergi, ia tertawa melihatku. Aku bingung mengapa ia tertawa. Tetapi, aku tidak terlalu menghiraukan apa yang ia tertawakan. Aku masuk ke dalam toilet untuk menuntaskan hasrat nafsuku.
“HAAAA.”, aku berteriak sambil menutup mataku dengan kedua telapak tanganku.Ternyata aku salah masuk toilet. Aku lantas langsung berlari keluar dari toilet laki-laki itu. Berlari sambil menahan malu. Aku terlalu terburu-buru berlari, sehingga untuk yang kedua kalinya aku menabrak seseorang lagi.
“Aduh.”
“Maaf, maaf, sungguh aku tak sengaja.”
“Kamu lagi, kamu lagi.”, ia menatapku sinis dan langsung pergi tanpa memaafkanku. Namanya Adrian, dialah seorang cowok yang pertama aku kenal di SMAN 1 Intan Mulia.
Hari semakin larut, aku segera menutup buku diariku itu dan menyudahi semua khayalanku di masa lalu. Aku tertidur sangat nyenyak, sehingga membuatku terbawa kedalam bunga tidur yang begitu indah.
“Putri Annisa, bersediakah engkau menerima bunga ini sebagai tanda cintaku kepadamu?”
“Oh Pangeran Adrian, dengan besar hati aku menerima bunga ini.”
“Tiiiitttttt.”, alarmku berdering besar sekali, membuatku terjaga dari mimpi indahku. Namun, ketika aku ingin mengingat kembali mimpiku itu, satu adeganpun tidak dapat terbayangkan olehku.

***

“Selamat pagi semuanya.”
“Pagi, bu.”
Aku sungguh sangat membenci pelajaran matematika, karena aku tidak pintar dalam hal menghitung. Saat Bu guru masuk ke kelaspun aku tak menghiraukannya.
“Tugas yang ibu berikan kemarin, dikumpulkan sekarang!”
Aku merasa senang karena tugas yang ibu guru berikan sudah diselesaikan, walaupun bukan aku yang mengerjakannya. Aku segera mengambil buku latihanku yang ada didalam tas. Akan tetapi, hal buruk terjadi padaku, buku latihan matematikaku ketinggalan di rumah. Aku sangat takut kalau-kalau ibu guru marah padaku.
“Kalau yang tidak mengerjakan tugas atau yang ketinggalan di rumah segera maju ke depan untuk menerima hadiah dari ibu.”
Aku maju ke depan, dengan langkah kaki yang terasa bergetar, dan berjalan sambil menahan malu. Aku disuruh menjadi patung oleh ibu guru, dengan kedua tanganku memegangi kedua telingaku, dan kaki kiriku diangkat seperti kucing yang kakinya sedang patah.
“Adrian, kerjakan tugas yang ibu berikan di papan tulis.”
“Iya bu.”
Adrian adalah seorang cowok yang pertama kali ku kenal di SMAku ini. Sudah dua tahun aku sekelas dengannya, banyak hal yang menarik perhatianku ketika melihat dirinya. Adrian memang seorang cowok yang patut dikagumi dan diteladani. Adrian mungkin bisa dibilang cowok yang multitalent. Ia pintar di akademik terutama matematika, di nonakademik ia atlet sepakbola, soal agama dia rajanya, sungguh Adrian idolaku. Yang sangat ku sukai pada Adrian adalah dia tidak pernah menggangu perempuan dan yang sangat-sangatku sukai dia tidak pernah berpacaran. Mungkin teman-temanku bisa mengatakan bahwa aku tergila-gila dengan Adrian. Namun aku tidak perlu malu, karena tak seorangpun mengetahui kalau aku mengagumi Adrian.
“Nisa, Nisa, ANNISA.”, panggil ibu guru padaku.
“Oh iiiya bu.”, jawabku gugup.
“Jangan melamun. Sambung yang Adrian kerjakan itu.”
Aku terpaku mendengar perintah ibu guru, sungguh aku tidak mengerti tentang matematika. Lalu, ku langkahkan kakiku kearah papan tulis melihat angka-angka yang sungguhku tak mengerti apa maksudnya. Diam dan tetap diam aku memandangi angka-angka itu, tapi aku masih tidak dapat mengerti apa maksudnya.
“Annisa, kamu tidak bisa menyambung pekerjaan yang telah dikerjakan Adrian itu?”
Rasanya air mataku yang tertahan ini ingin aku keluarkan, namun apa daya diriku ini, aku tetap merasa takut dengan matematika.
“Saya tidak bisa bu.”
“Kalau begitu kembali ketempat dudukmu.”
Dengan langkah kaki yang terasa begitu berat dan lemas, aku berjalan mengarah ke tempat dudukku.
“Anak-anak ibu tidak mau tahu kalau kalian tidak bisa belajar matematika. Ibu akan membuat kelompok belajar matematika agar kalian lebih mudah untuk belajar matematika.”
Aku merasa malas sekali ketika ibu guru akan membuat kelompok belajar. Namun, aku sangat senang sekali karena aku sekelompok dengan Adrian. Wow sekali rasanya, aku berharap akan ada peningkatan pada nilai matematikaku.

***

Hari berlalu begitu cepat, kini tiba saatnya ulangan kenaikan kelas. Keesokkan harinya adalah ulangan matematika. Aku belajar dengan giat, aku harus lebih semangat menghadapi ulangan matematika. Soal matematika kini berada ditanganku, aku harus bisa mengerjakannya agar aku tidak remedial terus menerus.
“Annisa, kamu harus bisa mengerjakannya, fighting Nisa.”, gumamku dalam hati.
Ulangan telah berlalu, saatnya menunggu hasil yang telah aku kerjakan. Sore harinya di mading akan ditempelkan hasil ulangan matematika, hatiku berdetak begitu kencang terasa aliran darahku mengalir keseluruh tubuhku. Aku gugup sekali melihat hasil ulangan matematika.
“ANNISA.”, teriak sahabatku Delia dari arah mading.
“Ada apa Del?”
“Kamu hebat banget, nilai matematikamu sempurna.”
Aku sungguh senang sekali mendengar ucapan sahabatku itu. Namun. aku masih tidak percaya dengan nilaiku sendiri.
“Apa ini karena kelompok belajar matematika? Atau karena aku terlalu giat? Atau karena aku sekelompok dengan Adrian?”, gumamku dalam hati. Ketika aku memikir Adrian, aku tersenyum yang disertai tawa “haha.” Adrian kau sungguh cowok yang perfect, aku sungguh mengagumimu. Aku ingin menjadi sepertimu Adrian, setiap bulan kau selalu keluar kota untuk mengikuti event lomba, setiap hari kau melantunkan ayat suci al-qur’an, setiap sore kau berlaga seperti Cristiano Ronaldo menendang bola dengan kakimu yang begitu lincah dan menawan dan setiap semester kau juara umum.
“Hahaha.”, aku tertawa sendirian seperti orang gila, aku tertawa karena membayangkan sosok yang bernama Adrian itu. Akupun pergi menuju kelas menghentikan semua yang ada dipikiranku.

***

    Hari ini mungkin hari terakhirku bertemu dengan keluarga besar SMAN 1 Intan Mulia, hari terakhirku bersama teman-temanku, hari terakhirku bersama guru-guruku, hari terakhirku menginjakkan kaki di SMA ini dan hari terakhirku melihat Adrian. Aku sungguh sangat sedih dihari pelepasan siswa-siswi kelas XII Angkatan 13 SMAN 1 Intan Mulia. Rasanya ingin lebih lama bersama-sama, namun apa daya hari berlalu begitu cepat.
Dengan mengenakan Jas hitam dan dasi bermotif bunga anggrek membuat Adrian tampil mempesona didepan para undangan, dengan gaya rambutnya mirip Cristiano Ronaldo ia sungguh keren dan mempesona.
“Wow, Adrian keren bingitss.”, ucap Delia.
“Biasa aja Del.”, tuturku padanya.
Aku telah diterima di Universitas Diponegoro jurusan Teknik Kimia, Delia diterima di Universitas Brawijaya jurusan Kedokteran, dan Adrian diterima di Universitas Indonesia jurusan Pendidikan Matematika. Aku sungguh senang bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, tetapi aku juga merasa sedih karena aku jauh dari sahabatku, orangtuaku, dan Adrian.

***

Aku sekarang harus lebih mandiri dan giat belajar untuk menghadapi ujian skripsiku yang sebentar lagi akan dimulai.
“Annisa, dipanggil ibu dosen ke ruangannya.”, kata salah satu mahasiswa kepadaku.
Aku lalu berjalan ke arah ruangan ibu dosen. Dengan rasa percaya diri aku mempresentasikan hasil skripsiku kepada ibu dosen. Selama lima bulan terakhir ini, aku mengerjakan skripsiku dengan sungguh-sungguh. Ternyata ibu dosen menyukai ideku pada skripsi yang aku buat itu, aku sungguh bahagia luar biasa mendengar ibu dosen memujiku.
“Hitungan matematikamu sungguh bagus sesuai dengan teknik kimia yang membutuhkan rumus yang simple untuk menghitung senyawa pada larutan asam dan basa yang kamu utarakan pada skripsimu, saya suka sekali dengan skripsimu.”
“Terima kasih bu dosen, saya bisa menghitung matematika karena seseorang juga bu. Sekali lagi terima kasih ya bu.”
“Iya, sama-sama.”
Aku pergi dengan perasaan hati yang senang, terasa mengguncang-guncang didalam dadaku ini. “Horee, horee.”, mungkin begitulah bunyi hatiku yang bersorak gembira didalam dadaku.

***

     Sudah tiga bulan aku lulus dari Universitasku dengan mendapat gelar Annisa Dwi Mulya, S.T (Sarjana Teknik Kimia). Yap, aku sungguh senang sekarang aku telah mencapai cita-citaku dan menjadi orang yang sukses dan membanggakan kedua orang tuaku.
    Sekarang aku telah kembali kerumahku. Didalam istanaku yang disebut dengan kamar, aku kembali mengingat tentang masa laluku. Ahh, sungguh indah masa lalu itu, walaupun banyak kesedihan dan penderitaan. Aku ingin membaca sebuah novel untuk menghibur hatiku yang sedang dilanda kerinduan pada masa lalu.
    “BRUKK.”, bunyi sebuah buku berwarna biru jatuh dari dalam lemariku. Lalu ku pegangi buku itu, buku yang didalamnya tertulis kenangan indah dan kenangan pahit. Ku buka buku itu, aku tertawa kecil membaca goresan tanganku itu. Pada lembar berikutnya ada secarik kertas yang bertuliskan:
“Yakinkanlah dirimu bahwa kamu bisa menggapainya. Jangan takut jikalau kamu tidak bisa, tetapi kamu harus melampaui dirimu sendiri. Matematika mungkin dikutuk sebagai pelajaran yang menyeramkan, namun ubahlah kutukan itu menjadi sesuatu yang istimewa.”
Pada saat kami duduk dibangku SMA, aku sekelompok belajar matematika dengan Adrian. Secarik kertas itu kuambil dari buku matematika Adrian. Dengan secarik kertas itu, dapat membuatku termotivasi agar tidak takut dengan matematika. Aku sungguh gila, mengambil secarik kertas milik orang lain tanpa sepengetahuannya. Hal itu tidak bisa ku ulang lagi, yang lalu biarlah berlalu, biarkan jadi kenangan masa lalu. Hanya secarik kertaslah yang bisa membuatku semangat. Adrian mungkin sosok pria yang ku kagumi dimasa lalu, namun sekarang aku harus melupakan masa laluku itu, dengan membuka lembaran baru.

***

Aku sekarang bekerja di kota kelahiranku ini, yang orang-orangnya mungkin memiliki segudang kesibukan tersendiri. Aku pergi dengan langkah kaki yang tergesa-gesa, aku takut kalau-kalau aku  ketinggalan bus yang mengarah ke tempat kerjaku. Tanpa sadar aku menabrak seseorang.
“Brukk.” bunyi bukuku yang berjatuhan semua, termasuk secarik kertas di dalam diariku itu. Aku segera mengambil bukuku yang berjatuhan tersebut, namun ketika aku ingin mengambil secarik kertas itu, seseorang mengambilnya. Aku lantas melihat ke arah orang yang mengambil secarik kertas itu.
“Annisa?”
“Adrian?”
Benarkah itu Adrian, hatiku bersorak dengan gembira ketika melihat itu adalah Adrian. Ingin sekali aku menanyakan Apa kabarmu? Sekarang tinggal dimana? Kerja dimana? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Belum sempat aku menanyakan salah satu pertanyaan yang aku pikirkan, Adrian telah bertanya lebih dulu.
“ Apakah benar secarik kertas ini kau dapatkan dari buku matematiku pada masa SMA dulu?”
“Maafkan aku Adrian, aku mengambil secarik kertas itu secara diam-diam tanpa sepengetahuanmu.”
“Tidak apa-apa Annisa, aku tidak akan marah padamu, tetapi aku senang karena secarik kertas itu berada padamu.”
Aku dan Adrian tertawa bersama-sama mengingat masa-masa di SMA dulu. Sungguh aku sangat senang bisa bertemu dengan Adrian lagi, padahal dunia ini terasa sempit. Secarik kertaslah yang mempertemukan kami. Secarik kertas mungkin hanya dianggap suatu hal yang tidak berharga dan tidak penting. Namun bagiku secarik kertas itu penuh dengan makna, penuh dengan kenangan, dan penuh dengan keajaiban.
 

BIODATA PENULIS

Penulis adalah seorang gadis yang dilahirkan di Provinsi Jambi, Sungai Penuh tanggal 28 Februari 1995, dengan nama lengkap Reskia Ekasari. Biasa dipanggil Reski. Penulis betempat tinggal di dusun 1 Desa Kertayu Kecamatan Sungai Keruh, Musi Banyuasin. Saat ini tercatat sebagai pelajar jurusan IPS, kelas XII, SMA Negeri 2 Unggul Sekayu. Kegemaran yang sering dilakukan penulis adalah menulis, membaca, dan gemar browsing. Jika ingin berkenalan dengan penulis bisa menfollow akun twitternya @resa_me, facebook Reskia Ekasari, Gmail reskiaekasari5@gmail.com dan nomor handphone 085357595362.

Update terbaru, kepo lebih lanjut!:

0 Response to "[CONTOH CERPEN] Secarik Kertas"

Post a Comment

Mari berkomentar dengan sopan, harap memberikan komentar sesuai postingan, dan mohon maaf dilarang menaruh link aktif, dsb. Terima kasih :)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel